Topik.id — Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak dalam arah negatif pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Tekanan datang ketika investor menghadapi kombinasi risiko geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian menjelang keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Rupiah berakhir melemah 25 poin atau 0,14% ke Rp17.694 per dolar AS. Pada saat yang sama, IHSG kehilangan 73,54 poin atau 1,13% dan ditutup di level 6.461. Pergerakan pasar domestik mencerminkan sikap investor yang cenderung defensif menjelang agenda besar bank sentral global.
Risiko Timur Tengah Kembali Menekan Aset Domestik
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi sumber tekanan eksternal. Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran kembali menyerang sejumlah target di Arab Saudi.
Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keberlangsungan ekspor minyak Arab Saudi. Serangan sebelumnya telah mengganggu operasional pipa minyak East-West Pipeline dan menimbulkan risiko terhadap tambahan sekitar 4%-5% pasokan minyak global.
Situasi pasar energi yang semakin ketat berpotensi memperbesar tekanan inflasi global. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak juga dapat memberikan konsekuensi terhadap rupiah dan aset berisiko apabila investor meningkatkan posisi defensif.
Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed Menguat
Sentimen global semakin berat karena investor kini menanti keputusan Federal Reserve pada pertemuan pekan ini. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin setelah inflasi Amerika Serikat menunjukkan peningkatan.
Inflasi konsumen umum AS pada Agustus naik 0,4% secara bulanan, dibandingkan 0,1% pada Juli. Sementara inflasi inti meningkat 0,3% dari 0,2% pada bulan sebelumnya.
CME FedWatch Tool mencatat probabilitas kenaikan bunga sekitar 89%, melonjak dari 59,4% pada pekan sebelumnya. Ekspektasi tersebut membuat dolar AS dan imbal hasil aset Amerika menjadi perhatian investor pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Perubahan Fiskal Indonesia Ikut Dicermati
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga memperhatikan perubahan dalam pemerintahan setelah Suahasil Nazara ditunjuk sebagai Menteri Keuangan baru. Pergantian tersebut membuat arah kebijakan fiskal menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kepercayaan investor.
Pasar akan menilai kemampuan pemerintah menjaga kredibilitas APBN, mengelola risiko fiskal, sekaligus tetap menyediakan ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Mayoritas Sektor IHSG Berakhir di Zona Merah
Tekanan terlihat dari perdagangan saham yang relatif berimbang, dengan 330 saham menguat, 332 melemah, dan 301 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp12,6 triliun dengan volume 25,5 miliar saham.
LQ45 turun 1,25% menjadi 650, IDX30 melemah 1,32% ke 361, sedangkan MNC36 terkoreksi 1,20% menjadi 283. JII juga turun 0,41% ke 395.
Sejumlah sektor seperti energi, keuangan, properti, bahan baku, transportasi, industri, teknologi, dan konsumer non-siklikal berada di zona merah. Sebaliknya, konsumer siklikal, infrastruktur, dan kesehatan masih mampu mencatat penguatan.
Di jajaran saham, PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) menjadi penguat terbesar dengan kenaikan 34,95% ke Rp139. PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI) naik 24,86% ke Rp442 dan PT Voksel Electric Tbk (VOKS) menguat 24,62% menjadi Rp324.
