Saham

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 1,57% ke Level 5.353, Ini Penyebabnya

IHSG anjlok 1,57% pada Senin, 26 Oktober 2026. Aksi ambil untung dan pelemahan saham perbankan menjadi tekanan utama indeks.

IHSG Tiba-Tiba Anjlok 1,57% ke Level 5.353, Ini Penyebabnya
Pergerakan IHSG (Sumber: ANTARA)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Senin (26/10/2026) pagi. Pelemahan terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat, tetapi kemudian berbalik arah akibat tekanan jual terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG merosot 1,57% ke posisi 5.353,60 pada pukul 10.02 WIB. Nilai transaksi mencapai Rp4,23 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 11,14 miliar saham.

Tekanan jual mendominasi perdagangan dengan 500 saham melemah, 184 saham menguat, dan 279 saham bergerak stagnan. Pelemahan tersebut terjadi setelah IHSG mencatat penguatan selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Sebelumnya, IHSG mengawali perdagangan di zona hijau dengan kenaikan 0,06% ke level 5.442. Namun, penguatan itu tidak berlangsung lama karena indeks segera berbalik melemah.

Aksi ambil untung tekan IHSG

Salah satu faktor yang membebani IHSG adalah aksi ambil untung atau profit taking setelah penguatan indeks selama empat sesi perdagangan.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami koreksi, terutama dari sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan pertambangan. Tekanan terhadap saham-saham tersebut turut membebani pergerakan indeks karena bobot kapitalisasi pasarnya yang besar.

Berikut pergerakan sejumlah saham pada perdagangan Senin (26/10/2026) sekitar pukul 10.02 WIB:

Kode sahamHargaPerubahan
BBRIRp2.840-2,41%
BMRIRp3.820-2,05%
BBNIRp3.350-2,05%
BBCARp4.970-1,09%
TLKMRp2.170-3,12%
BYANRp10.425-3,02%
BRENRp2.330-2,10%
MORARp3.020-6,79%

Selain saham-saham tersebut, tekanan juga dialami PT Astra International Tbk (ASII), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Sentimen MSCI dan arus dana asing masih membayangi

Di luar aksi ambil untung, pelaku pasar mencermati perkembangan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia.

Ketidakpastian tersebut berkaitan dengan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Status pasar Indonesia belum berubah karena proses konsultasi masih berjalan.

Perkembangan itu membuat investor memperhatikan transparansi kepemilikan saham, stabilitas pasar, dan risiko arus keluar modal asing.

Mirae Asset Sekuritas, sebagaimana dikutip IDXChannel, menyoroti pentingnya mencermati arus dana asing, pergerakan rupiah, serta keberlanjutan penguatan IHSG di tengah terbatasnya dukungan pembelian investor asing.

Kebijakan suku bunga The Fed turut menjadi perhatian

Faktor eksternal juga membayangi pergerakan pasar saham Indonesia pada awal pekan ini. Investor menantikan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, pada pekan perdagangan 26–30 Oktober 2026.

Arah kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, nilai tukar rupiah, dan arus investasi ke negara berkembang.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah ketegangan geopolitik menambah perhatian pasar terhadap risiko inflasi global.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menantikan publikasi laporan keuangan emiten kuartal III-2026, terutama perusahaan perbankan dan emiten dengan kapitalisasi pasar besar.

IHSG masih menghadapi risiko volatilitas

Pelemahan IHSG pada Senin pagi terjadi setelah pasar saham Indonesia mencatat pemulihan sepanjang pekan sebelumnya.

Pada Jumat (23/10/2026), IHSG ditutup menguat 0,95% ke level 5.439,26. Secara mingguan, indeks mencatat kenaikan 4,90%.

Meski demikian, penguatan tersebut belum sepenuhnya menghapus tekanan yang terjadi setelah gejolak pasar pada pertengahan Oktober 2026.

Pergerakan indeks selanjutnya masih perlu dicermati dengan mempertimbangkan perkembangan reformasi pasar modal, arus dana asing, stabilitas rupiah, serta kebijakan moneter global.

Di tengah kondisi tersebut, volatilitas IHSG menjadi perhatian investor, terutama ketika tekanan jual kembali terjadi pada saham-saham berkapitalisasi besar.