— Kementerian Agama (Kemenag) tengah mematangkan persiapan untuk menyambut perayaan satu dekade Hari Santri. Rangkaian kegiatan, logo, dan tema resmi Hari Santri 2026 dijadwalkan meluncur pada 22 September 2026, tepat sebulan jelang puncak peringatan pada 22 Oktober mendatang.

Direktur Pesantren Kemenag Basnang Said menyampaikan bahwa peluncuran di akhir September ini berfungsi untuk memperkenalkan identitas serta pesan utama peringatan kepada masyarakat luas.

“Pada tanggal 22 September, tentu kita sudah bisa mengeluarkan tema, kemudian logonya. Ini sengaja kita laksanakan tanggal 22 September. Maknanya adalah satu bulan menuju tanggal 22 Oktober 2026,” ujar Basnang dalam rapat persiapan Hari Santri 2026 di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Ia menambahkan, perhelatan tahun ini memiliki arti penting karena menandai genap sepuluh tahun usia Hari Santri sejak pertama kali ditetapkan pada 22 Oktober 2016. Berbagai agenda pun dirancang dengan kemasan pesan yang kuat agar selaras dengan dinamika pesantren masa kini.

“Hari Santri 2026 ini merupakan peringatan yang kesepuluh. Jadi, ditetapkan pada 22 Oktober 2016 dan tahun ini genap 10 tahun pada 22 Oktober 2026,” katanya.

Di samping pengenalan logo dan tema, Kemenag turut menyiapkan sejumlah agenda pendukung. Beberapa kegiatan tersebut mencakup Perkemahan Pramuka, Surat Santri untuk Presiden, Festival Sarung dan Peci, Multaqa Ma’had Aly, Expo Kemandirian Pesantren, Santrivision, pelaksanaan Upacara, hingga ditutup dengan Malam Puncak Hari Santri.

Berbagai acara tersebut dipersiapkan untuk menonjolkan beragam aspek di lingkungan pesantren, mulai dari sektor pendidikan, penguatan masyarakat, kemandirian ekonomi, syiar dakwah, hingga pemanfaatan inovasi serta digitalisasi.

Melalui rangkaian acara ini, perayaan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan biasa, melainkan momentum penting untuk menunjukkan transformasi dan sumbangsih nyata pesantren kepada khalayak.

Sinergikan Tema, Logo, dan Publikasi

Sementara itu, Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag Thobib Al Asyhar menyoroti urgensi keselarasan antara tema, logo, strategi publikasi, serta seluruh agenda kegiatan yang ada.

Menurutnya, identitas visual seperti logo tidak sekadar menjadi simbol, melainkan sarana untuk merangkum nilai-nilai keislaman, semangat kebangsaan, serta peran aktif santri bagi negara.

“Logo itu menjelaskan visi dan misi kita. Bukan sekadar aspek identitas atau identitas kegiatan, tetapi juga mengandung visi besar mengenai ke mana kita akan membawa kegiatan tersebut,” ungkapnya.

Pihaknya juga mendorong agar strategi komunikasi publik untuk peringatan tahun ini lebih menonjolkan figur, karya nyata, inovasi, serta kiprah para santri dari berbagai wilayah. Penguatan publikasi akan digencarkan lewat pemanfaatan video berdurasi pendek, infografis, motion graphic, karya fotografi, serta ragam konten interaktif di media digital.

“Keberadaan logo itu untuk membangun identitas. Temanya untuk menyatukan pesan. Publikasinya untuk memperluas cerita. Rangkaian acaranya untuk menghadirkan pengalaman. Dan dampaknya untuk memperluas citra dan kontribusi santri serta Kementerian Agama secara umum,” tuturnya.