— Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya memulihkan sektor pendidikan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pasca-gempa bumi magnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Upaya ini tidak hanya memastikan kembalinya aktivitas belajar mengajar, tetapi juga memprioritaskan keamanan ruang belajar dan pemulihan kondisi psikologis seluruh warga sekolah.

Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Saryadi, menjelaskan bahwa pemulihan pendidikan mencakup dua jalur utama: penyediaan ruang kelas yang aman dan dukungan psikososial. Langkah ini merupakan bagian integral dari penanganan dampak bencana yang melanda Flores.

Dampak Gempa pada Sektor Pendidikan

Hingga 10 September 2026, tercatat sebanyak 2.447 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK dan pendidikan khusus terdampak gempa. Dampak ini dirasakan oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan. Sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan sempat mengungsi, termasuk enam peserta didik dan satu guru yang meninggal dunia.

Secara infrastruktur, 730 satuan pendidikan mengalami kerusakan berat, dengan 8.728 dari 13.750 ruang kelas yang dilaporkan juga mengalami kerusakan. Data ini masih bersifat dinamis seiring pembaruan pendataan di lapangan.

Pembelajaran Berjalan di Tengah Keterbatasan

Meskipun menghadapi tantangan infrastruktur, proses pembelajaran tetap diupayakan berjalan. Sebanyak 1.960 satuan pendidikan masih menggunakan moda darurat seperti tenda dan ruang kelas sementara. Sementara itu, 487 satuan pendidikan lainnya telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka di ruang kelas yang normal.

Kemendikdasmen menilai kebutuhan mendesak adalah penyediaan ruang belajar yang lebih layak dan tahan terhadap cuaca, terutama menjelang musim hujan. Sebelumnya, kementerian telah mendistribusikan 100 tenda kelas darurat senilai Rp5,5 miliar. BNPB juga turut membantu dengan mengalihfungsikan 40 tenda pengungsian menjadi ruang kelas darurat, serta dukungan swadaya dari masyarakat dan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP).

Penyediaan Ruang Kelas Sementara yang Lebih Tahan

Menyadari keterbatasan tenda dan terpal untuk jangka panjang, Kemendikdasmen menyiapkan ruang kelas sementara yang lebih kokoh menggunakan bahan lokal dan atap yang kuat. Ruang ini dirancang untuk bertahan selama empat hingga enam bulan sembari menunggu pembangunan permanen sekolah.

Tahap awal penyaluran bantuan pembangunan 672 ruang kelas sementara senilai Rp3,5 miliar telah dilakukan, diprioritaskan untuk sekolah dengan kerusakan berat dan wilayah yang lebih dulu memasuki musim hujan. Penghitungan kebutuhan ruang kelas tambahan masih terus dilakukan.

Asesmen dan Kesiapsiagaan Bangunan Sekolah

Pemulihan fisik sekolah dilakukan melalui asesmen menyeluruh oleh Kemendikdasmen bersama Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah. Bangunan dikategorikan hijau (aman), kuning, dan merah (tidak aman). Ruang kelas kategori kuning dan merah tidak dapat digunakan hingga dinyatakan aman, sementara kerusakan ringan diperbaiki agar dapat digunakan kembali.

Sebelum peserta didik kembali ke kelas, simulasi evakuasi dan pembekalan kesiapsiagaan wajib dilaksanakan bagi seluruh warga sekolah.

Prioritas Pembelajaran dan Dukungan Psikososial

Pembelajaran tatap muka terbatas mulai digelar bertahap sejak akhir Agustus hingga awal September 2026, dengan prioritas pada siswa kelas 6, 9, dan 12 untuk persiapan Tes Kemampuan Akademik. Kebijakan ini mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 yang menekankan tiga prinsip utama: keselamatan, fleksibilitas pembelajaran, dan dukungan psikososial.

Dampak psikologis menjadi perhatian serius. Sebanyak 857 satuan pendidikan dengan 101.888 peserta didik membutuhkan pendampingan psikososial. Dukungan ini telah diberikan di 75 sekolah melalui berbagai mitra, dan akan diperluas melalui pelatihan bagi 1.700 fasilitator daerah untuk menjangkau sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan.

Fokus program ini adalah membantu pendidik dan tenaga kependidikan memahami kondisi psikologis anak pascabencana, serta memulihkan proses pembelajaran secara bertahap. Pemerintah Provinsi NTT turut mendukung dengan mengalokasikan Rp2,4 miliar dari bantuan Presiden untuk program psikososial.

Penyaluran Bantuan dan Rehabilitasi Permanen

Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal senilai Rp6 miliar untuk kebutuhan peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan, serta Rp1,1 miliar untuk operasional pendidikan darurat. Santunan bagi korban jiwa juga telah disalurkan sebesar Rp330 juta.

Seiring penanganan darurat, fokus bergeser ke rehabilitasi dan rekonstruksi permanen. Tahap pertama penyaluran bantuan revitalisasi senilai Rp50 miliar untuk 187 satuan pendidikan terdampak telah dimulai. Verifikasi lanjutan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA masih berlangsung.

Sekolah yang sebelumnya menerima program revitalisasi tahun 2026 juga akan ditinjau ulang agar pembangunan sesuai kondisi pasca-gempa. Saryadi menekankan pentingnya kerja sama semua pihak untuk memastikan hak pendidikan anak-anak Flores tetap terpenuhi, dengan keberhasilan pemulihan diukur dari kembalinya rasa aman, keberlangsungan belajar, dan kesiapan psikologis seluruh warga sekolah.