— Partikel plastik berukuran mikro telah menyebar luas di Indonesia, mengkontaminasi udara, air, dan lingkungan, bahkan ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia. Laporan The New York Times menyoroti fenomena ini sebagai masalah lingkungan yang sulit terdeteksi, termasuk dampaknya pasca kebakaran tempat pembuangan sampah.

Kebakaran besar di tempat pembuangan sampah Jatiwaringin pada Juli lalu, yang berlangsung selama 10 hari, menjadi salah satu contoh nyata. Tumpukan sampah plastik yang masif di lokasi tersebut terurai menjadi fragmen-fragmen kecil ketika dilalap api. Ratusan warga di sekitar lokasi kemudian dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut akibat asap.

Peristiwa ini tidak hanya menyoroti bahaya asap, tetapi juga mengungkap bagaimana volume sampah plastik yang besar dapat menjadi sumber utama partikel plastik berukuran sangat kecil.

Apa Itu Mikroplastik?

Mikroplastik didefinisikan sebagai partikel plastik dengan ukuran kurang dari 5 milimeter. Ukurannya bahkan lebih kecil dari diameter sedotan plastik. Partikel yang lebih kecil lagi, dikenal sebagai nanoplastik, berukuran kurang dari 1 mikrometer dan berpotensi masuk ke dalam aliran darah serta jaringan tubuh manusia. Para peneliti telah menemukan fragmen plastik mikroskopis di otak, air susu ibu (ASI), dan cairan ketuban manusia, yang memicu perhatian ilmiah global.

Indonesia Hadapi Ancaman Mikroplastik Tertinggi

Sebuah studi dari Cornell University pada 2024 memproyeksikan Indonesia memiliki tingkat konsumsi mikroplastik tertinggi di dunia. Rata-rata individu di Indonesia diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram partikel plastik setiap bulan, setara dengan berat tiga kartu kredit.

Paparan mikroplastik tidak hanya melalui konsumsi, tetapi juga terdeteksi di udara. Indonesia termasuk negara dengan konsentrasi mikroplastik udara tinggi, terutama di Jakarta. Peneliti Reza Cordova dan timnya menemukan peningkatan lima kali lipat jumlah mikroplastik di permukaan tanah setelah hujan, mengindikasikan keberadaan material ini dalam jumlah besar di atmosfer.

Pembakaran Sampah dan Pakaian Menjadi Sumber Utama

Praktik pembakaran sampah secara terbuka disebut sebagai salah satu penyebab utama tingginya pencemaran mikroplastik di udara Indonesia. Survei Kementerian Kesehatan 2023 mencatat 57 persen rumah tangga membakar sampah, jauh di atas rata-rata global 14 persen. Keterbatasan layanan pengangkutan sampah di luar perkotaan dan masih minimnya praktik daur ulang mendorong masyarakat, terutama berpenghasilan rendah, untuk mengandalkan produk kemasan plastik sekali pakai.

Selain sampah, pakaian berbahan sintetis juga menjadi sumber signifikan. Gesekan saat pencucian mesin dapat melepaskan serat plastik mikroskopis. International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengidentifikasi pencucian pakaian bermesin sebagai salah satu sumber mikroplastik rumah tangga terbesar. Di Indonesia, minimnya fasilitas pengolahan air limbah yang memadai membuat jutaan serat plastik terlepas ke selokan dan sungai, yang kemudian dapat terangkat ke udara.

Reza Cordova mendapati serat sintetis sebagai bentuk mikroplastik dominan dalam sampel air hujan yang dikumpulkannya di Jakarta Utara pada 2022, menguatkan temuan tentang mikroplastik di udara.

Mikroplastik di Perairan dan Dampaknya pada Kesehatan

Indonesia, sebagai negara kepulauan yang diapit dua samudra, juga menghadapi masalah pencemaran plastik di perairan. Mikroplastik telah ditemukan pada berbagai biota laut seperti pari manta, ikan bandeng, dan kakap. Negara ini juga merupakan eksportir makanan laut terbesar kedua di dunia setelah China, yang berpotensi menyebarkan kontaminasi lebih lanjut.

Dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia masih dalam tahap awal penelitian. Sebuah studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine pada 2024 menemukan hubungan antara keberadaan mikroplastik dalam plak arteri karotis dengan peningkatan risiko serangan jantung, stroke, atau kematian. Namun, temuan ini masih menunjukkan korelasi, bukan kausalitas langsung. Penelitian laboratorium juga menunjukkan paparan mikroplastik dapat memicu peradangan dan kerusakan sel.

Respons Pemerintah dan Tantangan ke Depan

Pemerintah Indonesia mulai menaruh perhatian pada isu mikroplastik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pernah menyarankan penggunaan masker saat hujan di Jakarta, menyusul temuan Reza Cordova. Pemerintah berencana mengumpulkan data pemantauan mikroplastik di udara, makanan, dan air untuk dibagikan kepada WHO.

Di sisi pengelolaan sampah, Menteri Lingkungan Hidup menetapkan target 2027 bagi seluruh pemerintah daerah untuk menghentikan praktik pembuangan sampah terbuka. Namun, kelompok pemerhati lingkungan meragukan target tersebut dapat tercapai.

Mikroplastik menjadi masalah tersendiri karena sifatnya yang tidak terlihat. Para ilmuwan masih berupaya memahami dampaknya secara menyeluruh. Reza Cordova mengambil langkah pribadi untuk mengurangi paparan, seperti menggunakan pembersih udara, menghindari air kemasan, menggunakan pengaturan mesin cuci yang lebih rendah, dan mengonsumsi makanan kaya serat. Temuan ini menegaskan bahwa persoalan plastik tidak berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan dapat bertransformasi menjadi partikel mikro yang sulit diukur dan dipahami dampaknya bagi kehidupan.