— Partikel plastik berukuran mikro telah menyebar luas di Indonesia, mengkontaminasi udara, air, dan lingkungan, bahkan ditemukan masuk ke dalam tubuh manusia. Laporan The New York Times menyoroti fenomena ini sebagai masalah lingkungan yang sulit terdeteksi, termasuk dampaknya pasca kebakaran tempat pembuangan sampah.

Kebakaran besar di tempat pembuangan sampah Jatiwaringin pada Juli lalu, yang berlangsung selama 10 hari, menjadi salah satu contoh nyata. Tumpukan sampah plastik yang masif di lokasi tersebut terurai menjadi fragmen-fragmen kecil ketika dilalap api. Ratusan warga di sekitar lokasi kemudian dilaporkan mengalami infeksi saluran pernapasan akut akibat asap. Peristiwa ini tidak hanya menyoroti bahaya asap, tetapi juga mengungkap bagaimana volume sampah plastik yang besar dapat menjadi sumber utama partikel plastik berukuran sangat kecil.

Ancaman mikroplastik kini semakin meluas dan telah merambah ke dalam rantai makanan manusia, termasuk buah-buahan dan sayuran yang dikonsumsi sehari-hari. Partikel plastik berukuran mikroskopis ini tidak lagi hanya ditemukan di lautan atau makanan olahan, tetapi juga menyusup ke dalam produk segar yang kita santap.

Sebuah riset yang diterbitkan dalam jurnal Environmental Research pada Februari 2024 mengungkapkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke jaringan tanaman dan hewan melalui berbagai jalur, mulai dari ekosistem tanah, air irigasi, hingga proses budidaya dan distribusi pangan.

Penelitian sebelumnya yang dipublikasikan di Environmental Science pada Agustus 2020 telah menunjukkan bahwa buah dan sayur segar mengandung puluhan hingga ratusan ribu partikel plastik berukuran di bawah 10 mikrometer. Studi lanjutan dari Universitas Catania, Italia, mengonfirmasi temuan ini, mengidentifikasi beberapa komoditas yang paling parah terpapar.

Buah dan Sayur dengan Kandungan Mikroplastik Tertinggi

Dalam studi tersebut, apel dan pir menjadi buah yang paling terkontaminasi mikroplastik. Apel tercatat memiliki rata-rata 195.500 partikel plastik per gram, sementara pir menyusul dengan rata-rata 189.500 partikel per gram.

Untuk kategori sayuran, brokoli dan wortel memimpin daftar dengan kandungan mikroplastik rata-rata melebihi 100.000 partikel per gram. Peneliti juga menemukan bahwa partikel mikroplastik terkecil terdapat di dalam wortel, sedangkan potongan partikel plastik terbesar terdeteksi pada daun selada.

Mekanisme Masuknya Plastik ke Tanaman

Proses penyerapan mikroplastik ke dalam tanaman terjadi secara alami melalui sistem perakaran. Studi telah membuktikan bahwa partikel mikroplastik dan nanoplastik mampu menembus akar tanaman seperti selada dan gandum, akibat akumulasi dari air dan tanah yang tercemar limbah plastik.

Sion Chan, juru kampanye Greenpeace Asia Timur, memperingatkan bahwa krisis polusi plastik ini secara langsung telah masuk ke dalam rantai makanan manusia. “Saat kita menggigit apel, kemungkinan besar kita juga mengonsumsi mikroplastik,” ujarnya.