— PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU) terus memperkuat tata kelola sebagai bagian dari strategi menjaga pertumbuhan bisnis di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap layanan ekonomi hijau. Langkah tersebut menjadi semakin penting bagi perusahaan testing, inspection and certification (TIC) yang mengandalkan independensi, kepatuhan, kualitas data, serta kepercayaan pelanggan.

Penguatan tata kelola MUTU tercermin dari perolehan TOP GRC Awards 2026 dengan predikat #STAR4. Presiden Direktur MUTU Arifin Lambaga juga meraih penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026. Pengakuan tersebut mencerminkan upaya perusahaan mengintegrasikan governance, risk management, and compliance (GRC) dalam aktivitas bisnis.

GRC Menjadi Bagian dari Strategi Bisnis MUTU

VP Corporate Communication & Investor Relations MUTU Adam Isa mengatakan penerapan GRC tidak hanya diarahkan untuk memenuhi ketentuan regulator. Bagi perseroan, tata kelola menjadi instrumen untuk menjaga mutu layanan, mengendalikan risiko, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor dan pemangku kepentingan.

Sebagai perusahaan terbuka, MUTU menilai pertumbuhan finansial saja tidak cukup untuk membangun keyakinan investor. Transparansi, akuntabilitas, pengelolaan risiko, dan konsistensi keterbukaan informasi menjadi bagian dari fondasi bisnis.

Pendekatan tersebut juga diterapkan melalui integrasi risiko environmental, social, and governance (ESG) ke dalam enterprise risk management (ERM). Risiko yang diperhitungkan mencakup perubahan iklim, perkembangan regulasi, potensi greenwashing, reputasi, hingga keberlanjutan rantai pasok.

Ekonomi Hijau Buka Ruang Pertumbuhan Baru

Penguatan GRC berjalan seiring dengan ekspansi MUTU di sektor keberlanjutan. Perseroan telah mengembangkan layanan yang berkaitan dengan sertifikasi dan verifikasi emisi karbon, ISO 14064, ISO 14065, serta aktivitas yang mendukung perdagangan karbon.

Perkembangan tersebut memberikan peluang bagi MUTU seiring semakin banyak perusahaan yang membutuhkan verifikasi dan sertifikasi untuk memenuhi standar keberlanjutan. Dengan posisi sebagai perusahaan TIC, perseroan berpotensi mengambil peran dalam proses transisi bisnis menuju praktik yang lebih ramah lingkungan.

Manajemen melihat agenda sustainability dan GRC akan semakin sulit dipisahkan dari ekspansi bisnis. Karena itu, kualitas proses, integritas data, independensi layanan, serta pengendalian risiko menjadi aspek yang terus diperkuat.

Pendapatan MUTU Tumbuh 15,6% dalam Dua Tahun

Dari sisi kinerja, pendapatan MUTU menunjukkan tren pertumbuhan dalam periode 2023-2025. Berdasarkan materi TOP GRC Awards 2026, pendapatan perseroan meningkat dari Rp286,7 miliar pada 2023 menjadi Rp308,8 miliar pada 2024 dan Rp331,4 miliar pada 2025.

Dengan demikian, pendapatan MUTU bertumbuh sekitar 15,6% dalam dua tahun. Namun, laba tahun berjalan bergerak lebih terbatas, dari Rp30,9 miliar pada 2023 menjadi Rp24,1 miliar pada 2024 dan Rp24,2 miliar pada 2025.

Sebagai emiten sejak 2023, MUTU juga menyatakan terus menjaga kepatuhan terhadap aturan pasar modal. Perseroan menyebut belum menerima sanksi atau denda dari OJK maupun BEI terkait kepatuhan sejak menjadi perusahaan terbuka.

Bagi manajemen, penghargaan GRC menjadi pengingat bahwa ekspansi harus berjalan beriringan dengan kualitas tata kelola. Dengan kombinasi pertumbuhan layanan TIC dan meningkatnya kebutuhan ekonomi hijau, MUTU berupaya menjadikan governance sebagai salah satu fondasi untuk menopang ekspansi jangka panjang.