— Capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMK menjadi perhatian setelah munculnya data mengenai kemampuan akademik dasar. Di tengah kondisi tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meminta sekolah memastikan proses belajar tetap berlangsung ketika siswa menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Menurut Abdul Mu’ti, kegiatan PKL tidak seharusnya membuat siswa sepenuhnya meninggalkan pembelajaran yang telah dirancang sekolah. Pengalaman yang diperoleh selama berada di lingkungan kerja justru dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pendidikan agar pembelajaran memiliki keterkaitan lebih kuat dengan kebutuhan dunia kerja.

Pembelajaran Tetap Berjalan Selama Siswa PKL

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pelaksanaan PKL bukan berarti kegiatan pembelajaran berhenti. Sekolah perlu merancang mekanisme yang memungkinkan siswa tetap mendapatkan materi dan pendampingan meski mereka berada di tempat kerja.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah pembelajaran fleksibel, termasuk metode asinkron. Dengan pola tersebut, siswa dapat mengikuti kegiatan belajar tanpa harus selalu berada di ruang kelas pada waktu yang sama dengan guru.

Namun, fleksibilitas pembelajaran tetap membutuhkan pengelolaan yang jelas. Guru masih memiliki tanggung jawab untuk menetapkan target pembelajaran, memberikan arahan, memantau perkembangan siswa, hingga memberikan umpan balik atas proses yang dijalani.

Nilai TKA SMK Menunjukkan Tantangan Akademik

Arahan tersebut menjadi relevan setelah capaian TKA siswa SMK turut menjadi sorotan. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Sekolah Menengah Kejuruan Nomor 4021/B/D2/DV.00.01/2026, rata-rata nilai TKA SMK tercatat 34,84 untuk Matematika.

Sementara itu, rata-rata nilai Bahasa Inggris berada di angka 22,69 dan Bahasa Indonesia mencapai 53,68. Data tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam penguatan kemampuan akademik dasar siswa SMK.

Kondisi ini membuat proses pembelajaran selama PKL menjadi bagian penting yang perlu mendapat perhatian sekolah. Pengalaman praktik di dunia kerja tetap harus berjalan beriringan dengan pengembangan kompetensi akademik.

Literasi Dan Numerasi Jadi Kemampuan Fundamental

Selain menyoroti keberlanjutan pembelajaran, Abdul Mu’ti juga mengingatkan sekolah mengenai pentingnya literasi dan numerasi. Dua kemampuan tersebut dinilai menjadi fondasi yang tidak hanya diperlukan dalam lingkungan pendidikan, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari serta dunia kerja.

Karena itu, pengalaman PKL idealnya tidak ditempatkan sebagai kegiatan yang terpisah dari proses belajar. Interaksi siswa dengan lingkungan kerja dapat menjadi sumber pengalaman yang memperkuat materi pembelajaran sekaligus membantu mereka memahami penerapannya secara langsung.

Dengan pendekatan tersebut, PKL tidak sekadar menjadi sarana mengenalkan siswa SMK terhadap dunia kerja. Kegiatan ini juga dapat menjadi bagian terpadu dari proses pendidikan, sementara sekolah tetap menjaga pencapaian tujuan pembelajaran dan penguatan kemampuan dasar siswa.