Market

Rupiah Menguat ke Rp17.883 per Dolar AS pada Senin 12 Oktober, Investor Cermati Konflik Timur Tengah

Rupiah dibuka menguat ke Rp17.883 per dolar AS pada Senin 12 Oktober 2026. Investor memantau konflik Timur Tengah dan data inflasi AS.

Rupiah Menguat ke Rp17.883 per Dolar AS pada Senin 12 Oktober, Investor Cermati Konflik Timur Tengah

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Senin (12/10/2026) pagi, mata uang Indonesia bergerak naik di tengah perhatian investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah dan sejumlah agenda ekonomi penting dari AS.

Mengacu pada data Bloomberg di pasar spot exchange pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.883 per dolar AS. Pergerakan ini melanjutkan tren positif pada akhir pekan lalu, ketika rupiah juga ditutup menguat 16 poin ke posisi Rp17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026).

Rupiah Dibuka Menguat, Pasar Pantau Pergerakan Dolar

Penguatan rupiah berlangsung ketika pelaku pasar global mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi arah mata uang utama. Dolar AS dilaporkan sedikit menguat pada awal perdagangan di Asia, seiring meningkatnya perhatian terhadap eskalasi serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Situasi geopolitik menjadi salah satu faktor yang diperhitungkan investor karena dapat memicu perubahan permintaan terhadap aset keuangan dan mata uang. Meski rupiah menguat pada pembukaan, perkembangan dolar AS dan kondisi pasar global masih berpotensi memengaruhi pergerakan kurs sepanjang perdagangan.

Sementara itu, data yang tersedia belum mencantumkan persentase maupun level terkini indeks dolar AS. Karena itu, besaran perubahannya belum dapat dipastikan berdasarkan informasi tersebut.

Harga Minyak Brent Naik Di Tengah Risiko Pasokan

Ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar energi. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi salah satu acuan global, naik 0,7 persen menjadi US$105,45 per barel.

Kenaikan harga tersebut terjadi setelah muncul laporan mengenai serangan lanjutan terhadap bandara utama Arab Saudi dan serangan baru terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz. Perkembangan itu meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan terganggunya distribusi minyak.

Selat Hormuz merupakan jalur penting dalam perdagangan energi internasional. Risiko terhadap kelancaran pasokan di kawasan tersebut dapat memengaruhi harga minyak dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.

Bagi negara pengimpor energi, kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah tekanan terhadap biaya impor. Namun, dampak akhirnya terhadap rupiah akan bergantung pada perkembangan harga energi, arus modal, serta faktor ekonomi domestik lainnya.

Investor Menunggu Data Inflasi Amerika Serikat

Di pasar keuangan, kontrak berjangka Treasury AS melemah, sedangkan perdagangan tunai dilaporkan tutup karena hari libur di Amerika Serikat dan Jepang. Pada saat yang sama, kontrak berjangka indeks saham AS mencatat kenaikan tipis, menunjukkan sentimen yang relatif lebih optimistis di pasar ekuitas.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) AS yang dijadwalkan pekan ini. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk memperkirakan arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Investor juga mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve AS, Kevin Warsh, guna memperoleh petunjuk mengenai prospek suku bunga. Arah kebijakan bank sentral AS dapat memengaruhi daya tarik dolar dan pergerakan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Prospek Dolar AS Masih Jadi Perhatian

Strategi mata uang Barclays menilai peluang dolar AS keluar dari rentang pergerakannya selama 15 bulan terakhir semakin menguat. Pandangan itu disampaikan dalam catatan tim yang dipimpin Themistoklis Fiotakis.

Meski demikian, arah pergerakan dolar berikutnya masih akan dipengaruhi data ekonomi dan perkembangan geopolitik. Bagi rupiah, penguatan pada awal perdagangan Senin menjadi perkembangan positif, tetapi investor tetap perlu mencermati perubahan sentimen global sepanjang hari.