— Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menghadapi tekanan cukup berat sepanjang perdagangan 7-11 September 2026. Setelah enam pekan berturut-turut mencatat arus masuk dana asing, saham bank jumbo tersebut justru berbalik mengalami net sell hingga Rp1,48 triliun.

Perubahan arah aliran dana investor asing itu turut menekan harga BBCA. Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), saham BCA ditutup turun 1,56% ke level Rp6.325. Pada hari yang sama, investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp526,25 miliar.

Arus Dana Asing Berbalik Menekan Saham BBCA

Tekanan terhadap BBCA menjadi perhatian pasar karena terjadi setelah periode panjang akumulasi asing. Secara mingguan, saham BCA terkoreksi hingga 5,60%, sekaligus menunjukkan perubahan sentimen investor terhadap salah satu saham perbankan dengan kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Perubahan sentimen tersebut berlangsung bersamaan dengan pemberitaan mengenai aktivitas investasi keluarga Hartono, pengendali Grup Djarum, di luar negeri. Namun, perubahan arus dana asing tersebut tidak mengubah struktur kepemilikan pengendali BCA.

Per 31 Agustus 2026, PT Dwimuria Investama Andalan masih menguasai 67,73 miliar saham BBCA atau setara 54,942%. Jumlah tersebut tercatat masih sama dibandingkan bulan sebelumnya.

Grup Djarum Masih Pegang Porsi Besar BCA

Dengan kapitalisasi pasar BCA yang mencapai sekitar Rp779,71 triliun, nilai kepemilikan Dwimuria di BBCA diperkirakan mencapai sekitar Rp428 triliun.

Selain Dwimuria, dua perusahaan terafiliasi Grup Djarum juga tercatat memiliki saham BCA. PT Caturguwiratna Sumapala memegang sekitar 1,26 miliar saham atau 1,02%, sedangkan PT Tricipta Mandhala Gumilang menguasai sekitar 1,31 miliar saham atau 1,07%.

Robert Budi Hartono tercatat sebagai penerima manfaat akhir dari kepemilikan tersebut. Dengan demikian, struktur pengendalian BCA masih berada di tangan kelompok usaha tersebut meski saham BBCA mengalami tekanan di pasar.

KB Valbury Masih Melihat Potensi Re-Rating

Di tengah koreksi harga, KB Valbury Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy untuk BBCA. Sekuritas tersebut menetapkan target harga Rp9.480 per saham, yang mencerminkan estimasi price to book value (P/B) 2026 sebesar 3,8 kali.

Sebagai pembanding, BBCA saat ini diperdagangkan pada estimasi P/B 2026 sekitar 2,6 kali. Selisih valuasi itu dinilai memberikan ruang bagi re-rating apabila sejumlah katalis fundamental mulai terealisasi.

Pertumbuhan kredit yang lebih kuat serta peningkatan imbal hasil kredit menjadi salah satu katalis yang berpotensi mengangkat net interest margin (NIM). Selain itu, cost of credit (CoC) yang lebih rendah dari perkiraan dapat memberikan dukungan terhadap laba apabila kebutuhan pencadangan tetap terkendali dan kualitas aset membaik.

Risiko BBCA Tetap Perlu Dicermati

Meski prospeknya masih positif, KB Valbury mengingatkan sejumlah risiko. Pertumbuhan kredit atau penyesuaian imbal hasil yang lebih rendah dari ekspektasi dapat membatasi kinerja.

Kenaikan biaya pendanaan dan CoC juga berpotensi menekan profitabilitas. Penurunan NIM yang lebih dalam serta pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi risiko tambahan yang perlu diperhatikan investor.