Kominfo percepat transformasi dengan Visi Digital Indonesia 2045

M. Ihsan

Pelatihan keterampilan digital merupakan bagian dari strategi transformasi digital.

VID 2045 | foto: digital2045.id
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi pusat perhatian dunia. Namun, di balik kemajuan teknologi ini, terdapat tantangan yang tak kalah serius, yaitu kesenjangan digital yang melebar. 

Kesenjangan ini meliputi akses yang tidak merata terhadap teknologi, pemahaman yang kurang tentang implikasi teknologi, serta risiko ketidaksetaraan yang mungkin timbul akibat penerapan AI.

Menyikapi hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Republik Indonesia (RI) menunjukkan peran pentingnya dalam memastikan bahwa prinsip-prinsip AI diterapkan secara global dengan memperhatikan keadilan dan kesetaraan. Upaya ini merupakan langkah strategis untuk menghindari potensi penguatan kesenjangan digital yang bisa semakin melebar.

Dalam hal ini, Pemerintah RI mendorong pendekatan inklusif untuk mengikis kesenjangan digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria mengungkapkan pemanfaatan teknologi  AI perlu dilaksanakan dengan tata kelola yang bisa diakui secara global.

"Kita mengusulkan agar bagaimana digital divide bisa dihilangkan dengan mengedepankan inklusivitas dari semua negara yang mengembangkan AI," jelas Wamenkominfo Nezar Patria dalam Ministerial Session Regional Approach to Advance Ethical Governance of Artificial Intelligence, di Brdo Congress Centre, Slovenia, Senin (5/2/2024) kemarin.

Dalam diskusi yang melibatkan representasi dari Amerika Latin, Afrika, Eropa dan ASEAN, hampir semua negara mendukung arti penting panduan penggunaan AI. 

Wamenkominfo, Nezar Patria
Menurut Wamenkominfo Nezar Patria, salah satu bagian penting dari panduan etis menekankan AI dapat diadopsi semua kalangan sehingga muncul komitmen bersama untuk mengikis kesenjangan digital.

"Saya kira semua berkomitmen menghilangkan yang namanya digital devide sehingga tidak ada yang tertinggal, no one left behind," ungkapnya.

Lantas apa langkah Indonesia terkait untuk mengikis kesenjangan digital? 

Visi Digital Indonesia 2045.

Kesenjangan talenta digital telah menjadi perhatian global. Beberapa inisiatif telah diluncurkan seperti Decent Jobs for Youth sebagai aliansi untuk menciptakan lapangan kerja yang berkualitas bagi kaum muda. 

Sementara International Telecommunication Union dan Internatinal Labour Organization juga berkolaborasi menciptakan Digital Skills Toolkit sebagai sumber pengetahuan dalam Kampanye Keterampilan Digital. 

Wamenkominfo Nezar Patria menyatakan pelatihan keterampilan digital merupakan bagian dari strategi transformasi digital. Oleh karena itu, beberapa negara telah menerapkan strategi untuk mengurangi kesenjangan keterampilan digital termasuk Indonesia.
"Saat ini, Indonesia telah memiliki Visi Digital Indonesia 2045 (digital2045.id) sebagai salah satu peta jalan alternatif yang holistik dalam mengembangkan strategi-strategi yang diperlukan untuk mempercepat transformasi digital nasional," terangnya dalam Pembukaan Lokakarya International Telecommunication Union (ITU) Global Digital Transformation Center (DTC)  2024 di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (14/05/2024). 
Visi Digital Indonesia 2045 diwujudkan melalui 8 Strategi Imperatif dengan dua strategi yang berkaitan dengan pengembangan sumberdaya manusia yaitu penguasaan teknologi digital masa depan yang berbasis riset dan inovasi serta pembentukan masyarakat digital yang berbudaya, berdaya saing, dan produktif. 

Menurut Wamen Nezar Patria penguasaan teknologi digital masa depan yang berbasis riset dan inovasi dilaksanakan melalui (1) pengembangan innovation hub dan makerspace untuk kolaborasi, (2) peningkatan jaringan dan kapabilitas riset, dan (3) digitalisasi menyeluruh di sektor ekonomi.

"Semua itu ditujukan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dan perluasan pasar," tegasnya. 

Adapun pembentukan masyarakat digital yang berbudaya, berdaya saing, dan produktif, melalui upaya peningkatan keterampilan (upskilling) dan peningkatan keterampilan (reskilling) didukung berbagai program.

"Termasuk pelatihan dan sertifikasi soft skill dan hard skill, beasiswa atau bantuan pelatihan digital, dan pelibatan aktif berbagai pihak untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan membuka kesempatan kerja lebih lanjut," jelas Wamenkominfo.  

Wamen Nezar Patria juga mengutarakan banyak negara telah melakukan langkah seperti Indonesia. Vietnam melaksanakan Program Transformasi Digital Nasional pada tahun 2025 dengan Visi Menuju 2030 dengan fokus pengembangan pemerintahan digital dan masyarakat digital, khususnya pelajar, profesional menengah, dan bisnis. 

Seperti diketahui, Vietnam juga berkolaborasi dengan Google untuk meluncurkan program Google Career Certificate dan Google for Startups - Startup Academy Vietnam.

Sementara itu, Cina meluncurkan rencana tiga tahun sebagai kerangka kerja komprehensif dalam meningkatkan kemahiran digital. Rencana itu mencakup peningkatan kompetensi digital di sekolah, mempromosikan literasi digital publik, mempercepat transformasi digital dalam bisnis, dan menciptakan layanan publik digital yang inklusif.

Adapun Singapura memiliki beberapa program peningkatan keterampilan antara lain Program Konversi Karier (CCP) untuk Individu, Program Pemimpin Digital Muda Singapura, dan Program Asosiasi Teknologi.  

"Semua program ini dirancang untuk menyediakan platform bagi pelajar dan individu yang berada di pertengahan karier untuk memperoleh keterampilan digital yang relevan dan mempersiapkan jadi pemimpin teknologi masa depan," ungkapnya.

Dalam acara itu, Wamenkominfo Nezar Patria juga menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama Badan Pengembagan SDM Kementerian Kominfo dengan Cisco dan Indosat Ooredoo Hutchinson.
Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.
News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks