Polemik jurnalisme adopsi AI, ini kata Wamenkominfo Nezar Patria

M. Ihsan

Satu bisnis model sedang dicari bagaimana mengadopsi AI & bisa mengoptimalisasi pekerjaan jurnalistik tanpa menghasilkan misinformasi & disinformasi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria
Teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin merambah berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali dunia jurnalisme. 

Penggunaan AI menjadi polemik dalam kerja-kerja jurnalisme dan kode etik jurnalistik. Sebab membawa perubahan signifikan dalam cara berita dikumpulkan, diproses, dan disajikan kepada publik. 

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, menyoroti pentingnya adopsi teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas pemberitaan.
"Seperti media broadcast yang kita tahu ada yang memakai generative AI untuk pembaca berita. Tapi AI dan jurnalisme memang satu tantangan yang luar biasa dan saya kira diskusinya masih terus berlanjut. Satu bisnis model sedang dicari bagaimana mengadopsi AI dan bisa mengoptimalisasi pekerjaan jurnalistik tanpa menghasilkan misinformasi dan disinformasi," ungkap Wamen Nezar usai menghadiri Peluncuran Indonesia’s RAM AI bersama UNESCO di Jakarta Pusat, Senin (27/5/2024).
Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) meluncurkan Artificial Intelligence Readiness Assessment Methodology (RAM AI).

Wamenkominfo Nezar Patria menyatakan kerja sama itu merupakan upaya Indonesia dalam menerapkan tata kelola pemanfaatan teknologi AI global sesuai dengan standar UNESCO (UNESCO Recommendation on Ethical AI Governance). 

"Readiness Assessment Methodology ini dibuat oleh UNESCO untuk negara-negara dalam melihat kesiapan mereka mengadopsi standar etik yang sudah ditetapkan secara global," jelasnya.

Menurut Wamen Nezar Patria, peluncuran RAM AI di Indonesia awalnya akan berlangsung bulan Juni mendatang, namun dipercepat agar di bulan September, Kementerian Kominfo dapat melakukan tahap finalisasi.

"Kita launching hari ini dan kita harapkan bisa selesai September nanti, ini termasuk fast track. Biasanya RAM berlangsung selama enam bulan. Kami dan UNESCO punya komitmen untuk menyelesaikan September," tandasnya.

Wamenkominfo menjelaskan setelah peluncuran RAM AI, UNESCO akan melakukan berbagai kegiatan seperti wawancara stakehloders dan ekosistem AI di Indonesia.

"Jadi akan dilihat aspek sosial, ekonomi, teknologi, dan juga aspek regulasi yang sudah ada dan kesiapan masyarakat dalam mengadopsi teknologi AI ini," tuturnya.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Konten berbasis data.
Kategori konten paling banyak dibaca.


News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks