Pinjol dan judol merajalela, Sri Mulyani angkat bicara

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan.

Hendrik Syahputra
A- A+
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. | cover: topik.id
Pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol) semakin merajalela di Indonesia. Kemudahan akses dan penetrasi internet yang semakin meluas telah membuat kedua praktik ini tumbuh subur, menarik perhatian banyak pihak, termasuk Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan agar bisa menyaring informasi dari risiko kejahatan siber, seperti pinjol ilegal dan judol.
"Teknologi digital memberikan kemudahan akses informasi, maka masyarakat yang kurang terliterasi dari sisi keuangan menjadi objek yang sangat rentan. Kalau kita sendiri tidak punya pertahanan, kita yang menjadi korban," jelas Menkeu Sri Mulyani, dikutip Rabu (26/6/24).
Salah satu ciri khas kejahatan keuangan siber yang paling nyata adalah tawaran keuntungan yang berkali-kali lipat lebih tinggi dari modal yang dikeluarkan. Ia menekankan bisnis yang ideal tidak mungkin memberikan keuntungan yang terlampau melimpah.

"Itu eksploitasi. Kalau penawaran yang terlalu indah, cek berkali-kali agar tahu apakah itu benar atau tidak. Kemudian, berpikir lah secara rasional," terangnya.

Untuk itu, Menkeu Sri Mulyani mendukung program OJK yang secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, seperti program Bundaku (Ibu, Anak, dan Keluarga Cakap Keuangan) yang menyasar kelompok perempuan. Ia berpendapat perempuan memiliki peran krusial dalam menyebarluaskan pemahaman mengenai literasi keuangan.

"RA Kartini sudah bicara literasi, dan beliau sangat yakin perempuan yang diberikan akses informasi akan mampu mendidik anak-anaknya menjadi lebih baik, sehingga mampu menciptakan peradaban yang lebih baik," jelas Menkeu Sri Mulyani.

Program Bundaku merupakan program peningkatan literasi keuangan melalui pemberdayaan komunitas ibu dan perempuan sebagai Duta Literasi Keuangan.

Tujuan dari program tersebut adalah meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang produk dan layanan jasa keuangan, mendapatkan kisah sukses tokoh perempuan sebagai inspirasi kehidupan.

Serta mencetak Duta Literasi Keuangan dari kalangan ibu dan perempuan yang berbasis komunitas, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan menghindarkan masyarakat dari penipuan berkedok keuangan.

"Sebagai guru pertama bagi anak, setiap ibu memiliki peranan besar untuk meningkatkan kualitas SDM dan membangun peradaban bangsa. Para Ibu yang memiliki literasi keuangan yang baik tidak hanya berpotensi mendapatkan manfaat optimal dari kemajuan teknologi, tetapi juga menghindarkan keluarga dari berbagai risiko kejahatan digital di bidang keuangan," jelasnya.
Apakah konten ini bermanfaat?
Dukung dengan memberikan satu kali kontribusi.

Share:
Berbasis data.
Paling diminati.
News Terkini
Lihat semua
Komentar
Login ke akun RO untuk melihat dan berkomentar.

Terkini

Indeks