![]() |
| Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita | topik.id |
Pemerintah Republik Indonesia (RI) terus memacu pelaku industri kecil dan menengah (IKM) agar lebih adaptif menghadapi dinamika ekonomi global. Upaya ini difokuskan pada peningkatan literasi teknologi dan daya saing usaha. Sektor alas kaki menjadi salah satu perhatian utama karena berhadapan langsung dengan perubahan pasar.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Ditjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menjalankan beragam program penguatan. Mulai dari kebijakan fasilitasi, pelatihan, hingga pendampingan usaha dilakukan secara berkelanjutan. Langkah ini ditujukan agar sentra IKM mampu bersaing di pasar domestik dan global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut sentra IKM masih menghadapi tantangan struktural. Keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen, serta minimnya inovasi produk masih menjadi kendala. Di sisi lain, persaingan produk impor dan perubahan tren pasar berlangsung semakin cepat.
"Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor," kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/1/2026).
Kondisi tersebut terlihat di sentra IKM alas kaki Ciomas, Kabupaten Bogor, yang dikunjungi Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita pada September 2025. Dialog dengan perajin menunjukkan perubahan perilaku konsumen pascapandemi memengaruhi permintaan. Pola belanja yang bergeser menuntut pelaku usaha beradaptasi dengan cepat.
Isu regenerasi perajin juga menjadi perhatian serius pemerintah. Mayoritas perajin masih berasal dari generasi senior dengan keterbatasan penguasaan teknologi baru. Keterlibatan generasi muda dinilai penting agar sentra IKM lebih responsif terhadap inovasi dan perkembangan pasar.
"Sebagian besar perajin di sentra IKM alas kaki Ciomas merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya memiliki pengetahuan dan keterampilan baru. Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi," ungkap Reni.
Padahal, industri alas kaki memiliki potensi pertumbuhan yang besar bagi perekonomian nasional. Data BPS yang diolah Kemenperin mencatat pertumbuhan 8,31 persen secara tahunan pada triwulan II 2025. Investasi industri alas kaki bahkan menembus lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari–September 2025.
Kinerja ekspor alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan dua digit. Indonesia kini menempati peringkat keenam dunia sebagai eksportir alas kaki. Meski demikian, penguatan sentra IKM tetap diperlukan agar kontribusinya optimal dan berkelanjutan.
"Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan 11,89 persen pada periode Januari hingga Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki," ujar Reni.
