— Beberapa tahun lalu, mengambil kuliah di bidang Informatika dianggap sebagai salah satu pilihan karier paling aman. Kebutuhan akan profesional di sektor teknologi seperti programmer, software engineer, dan data scientist terus meningkat. Namun, kemunculan kecerdasan buatan (AI) yang kini mampu menulis kode memunculkan pertanyaan baru: apakah kuliah Informatika masih relevan?

Pertanyaan ini semakin mengemuka setelah Anthropic mempublikasikan skenario tentang masa depan AI yang transformatif. Dalam salah satu prediksinya, AI berpotensi mengambil alih sebagian besar tugas berbasis pengetahuan, termasuk pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh programmer.

Kesimpulan dari perkembangan ini bukanlah bahwa Informatika akan kehilangan masa depan. Sebaliknya, cara kerja para lulusannya kemungkinan besar akan berubah. Jika saat ini programmer masih terlibat langsung dalam membaca, menulis, dan memperbaiki kode, di masa depan peran tersebut bisa berevolusi.

Perubahan ini dapat disamakan dengan cara kita menggunakan library atau kerangka kerja (framework) dalam pemrograman saat ini. Seorang programmer tidak perlu memahami seluruh kode sumber dari NumPy, mesin basis data, sistem operasi, atau compiler. Mereka hanya perlu memahami fungsi, batasan, input, dan output-nya. AI dapat menjadi lapisan abstraksi berikutnya dalam proses pengembangan perangkat lunak.

Bayangkan seorang software engineer di masa depan hanya perlu memberikan instruksi seperti: “Bangun sistem autentikasi dengan aturan keamanan tertentu, mampu melayani satu juta pengguna, dan terintegrasi dengan sistem pembayaran.” AI kemudian akan membuat implementasi dari sistem tersebut.

Dalam skenario ini, manusia mungkin tidak lagi membaca ribuan baris kode yang dihasilkan AI. Fokus utama akan bergeser pada pemeriksaan apakah sistem yang dibangun memenuhi spesifikasi, aman, cepat, stabil, dan memberikan output yang benar. Dengan kata lain, pekerjaan di bidang Informatika dapat bertransformasi dari sekadar menulis kode menjadi perancangan sistem.

Pentingnya Fondasi Informatika di Era AI

Di sinilah pendidikan Informatika tetap memegang peranan krusial. Untuk dapat menentukan spesifikasi sistem yang tepat, seseorang tetap harus memiliki pemahaman mendalam tentang algoritma, struktur data, jaringan komputer, sistem operasi, basis data, keamanan siber, kecerdasan buatan, dan arsitektur perangkat lunak. Pengetahuan fundamental ini tidak lagi digunakan untuk mengetik setiap baris kode, melainkan untuk mengendalikan dan mengarahkan AI yang membangun perangkat lunak.

Perbedaan antara Informatika dan bidang yang lebih berorientasi pada penggunaan teknologi dalam organisasi, seperti Sistem Informasi, menjadi semakin jelas. Sistem Informasi tetap penting bagi mereka yang tertarik pada proses bisnis, manajemen informasi, analisis kebutuhan organisasi, dan penerapan teknologi. Namun, bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami inti teknologi AI, software engineering, cybersecurity, robotika, komputasi awan, data engineering, atau pengembangan algoritma, Informatika menawarkan fondasi teknis yang lebih kuat.

Oleh karena itu, munculnya AI bukanlah alasan untuk menjauh dari bidang Informatika. Yang mungkin berkurang adalah kebutuhan terhadap programmer yang hanya mahir mengubah spesifikasi menjadi kode. Sebaliknya, kebutuhan akan individu yang mampu memahami masalah, merancang sistem yang kompleks, menentukan batasan teknis, mengevaluasi perilaku sistem, dan mengorkestrasi AI akan terus meningkat.

Masa depan lulusan Informatika kemungkinan besar bukan lagi sebagai penulis kode semata, melainkan sebagai arsitek sistem komputasi. Ironisnya, justru karena AI semakin mampu menciptakan perangkat lunak, pemahaman mendalam tentang cara kerja komputasi menjadi semakin berharga.