Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Rabu (28/10/2026). Mengacu data Bloomberg pukul 09.06 WIB, rupiah melemah 18 poin atau 0,10 persen sehingga dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan pada level Rp18.174.
Pergerakan tersebut memperpanjang tren pelemahan rupiah yang berlangsung sejak awal pekan. Mata uang Indonesia sebelumnya juga dibuka melemah pada Senin (26/10/2026) dan Selasa (27/10/2026), di tengah tekanan dari pasar keuangan domestik.
Tekanan Pasar Saham dan Obligasi Membebani Rupiah
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa belum menunjukkan perbaikan. Menurut dia, kondisi pasar saham dan obligasi dalam negeri menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang Indonesia.
Rully juga menyoroti meningkatnya konversi simpanan dari rupiah ke valuta asing (valas). Perubahan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan atau minat untuk memegang mata uang asing di tengah pelemahan rupiah.
“Rupiah hari ini [Selasa] melemah, dipengaruhi oleh domestik tekanan di pasar saham dan obligasi, dan peningkatan konversi simpanan ke valas di perbankan,” kata Rully.
Ia menyebut porsi konversi simpanan dari rupiah ke valas pada Selasa mencapai 20 persen. Angka tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam melihat perkembangan permintaan valuta asing di sektor perbankan.
IHSG dan Kurva Imbal Hasil Jadi Perhatian
Tekanan terhadap rupiah juga terjadi bersamaan dengan kondisi pasar saham yang belum stabil. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat bergerak turun hingga kisaran 5.300, menambah perhatian pelaku pasar terhadap kondisi keuangan domestik.
Di pasar obligasi, muncul pula fenomena inversi kurva imbal hasil. Kondisi ini terjadi ketika imbal hasil obligasi dengan tenor 10 tahun berada di bawah imbal hasil obligasi dengan tenor 8–9 tahun.
Pergerakan tersebut menjadi bagian dari gambaran kondisi pasar keuangan yang dicermati investor. Kombinasi tekanan di pasar saham, obligasi, dan meningkatnya konversi simpanan ke valas dinilai turut memengaruhi pergerakan rupiah.
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Di tengah pelemahan rupiah, perdagangan mata uang di kawasan Asia Pasifik pada Rabu menunjukkan arah yang tidak seragam. Sejumlah mata uang melemah terhadap dolar AS, sementara beberapa lainnya mampu mencatatkan penguatan.
Yen Jepang dibuka relatif tidak berubah. Sementara itu, yuan China melemah 0,02 persen dan won Korea Selatan turun 0,59 persen pada awal perdagangan.
Pergerakan mata uang di kawasan ASEAN juga bervariasi. Ringgit Malaysia menguat 0,13 persen, sedangkan peso Filipina naik 0,14 persen.
Sebaliknya, baht Thailand melemah 0,21 persen dan dolar Singapura turun 0,05 persen. Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional tidak berlangsung dengan intensitas yang sama.
Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan domestik dan pergerakan dolar AS untuk melihat arah rupiah selanjutnya. Data Bloomberg yang menjadi acuan dalam laporan ini merupakan posisi pada pukul 09.06 WIB, sehingga nilai tukar dapat berubah sepanjang sesi perdagangan.









