Market

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.085 per Dolar AS pada 26 Oktober 2026

Rupiah melemah ke Rp18.085 per dolar AS pada Senin, 26 Oktober 2026. Harga minyak turun di tengah kekhawatiran pasokan energi global.

Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah ke Rp18.085 per Dolar AS pada 26 Oktober 2026
Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso/kye

Nilai tukar rupiah kembali bergerak di zona merah saat mengawali perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Mata uang Indonesia tersebut mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan pelemahan yang juga terjadi pada akhir perdagangan pekan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah di pasar spot dibuka pada level Rp18.085 per dolar AS, turun 5 poin atau 0,03%. Pada waktu yang sama, indeks dolar AS melemah 0,18% ke posisi 101,631. Pergerakan pasar valuta asing berlangsung ketika harga minyak dunia mulai terkoreksi setelah mengalami kenaikan tajam pada akhir pekan lalu.

Rupiah Melanjutkan Pelemahan dari Akhir Pekan

Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (23/10/2026), rupiah ditutup melemah 20 poin atau 0,11% ke level Rp18.080 per dolar AS.

Pelemahan pada pembukaan Senin membuat nilai tukar rupiah kembali berada di atas posisi penutupan pekan lalu. Pergerakan ini berlangsung ketika pelaku pasar mencermati perkembangan ekonomi global dan risiko geopolitik yang dapat memengaruhi arus perdagangan serta harga komoditas.

Sementara itu, indeks dolar AS justru mengalami penurunan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan rupiah pada awal perdagangan tidak berlangsung searah dengan penguatan indeks dolar, sehingga pelaku pasar masih perlu mencermati berbagai faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Harga Minyak Terkoreksi Setelah Sempat Melonjak

Mengutip Channel News Asia, harga minyak dunia turun pada Senin setelah sebelumnya mendekati level tertinggi dalam enam bulan pada akhir pekan. Koreksi harga terjadi meskipun serangan kelompok militan Houthi terhadap Arab Saudi masih menimbulkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan energi.

Pada pukul 00.18 GMT, minyak mentah berjangka Amerika Serikat turun US$1,60 atau 1,55% menjadi US$101,67 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent melemah US$1,56 atau 1,34% ke posisi US$115,16 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Jumat. Saat itu, harga minyak sempat ditutup menguat hampir US$3 per barel akibat kekhawatiran pasar terhadap dampak serangan Houthi di Arab Saudi.

Serangan Houthi Picu Kekhawatiran Pasokan Energi

Sepanjang pekan sebelumnya, harga minyak Brent tercatat meningkat 6%, sedangkan minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 2,3%. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah.

Kelompok Houthi menyatakan telah menyerang bandara dan fasilitas minyak di Arab Saudi pada Sabtu (24/10/2026). Sehari kemudian, pemerintah Arab Saudi mengumumkan keberhasilannya mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak.

Perkembangan tersebut membuat situasi keamanan kawasan tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Gangguan pasokan energi berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, yang kemudian dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter global.

Bagi rupiah, pergerakan dolar AS, harga komoditas, dan perkembangan geopolitik menjadi sejumlah faktor yang perlu dipantau. Arah nilai tukar selanjutnya akan bergantung pada perubahan sentimen pasar serta respons investor terhadap risiko global tersebut.