Market

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,30% ke Rp18.135 per Dolar AS pada 27 Oktober, Sentimen Global Masih Membayangi

Rupiah dibuka melemah ke Rp18.139 per dolar AS. Ketegangan Timur Tengah dan pergerakan harga minyak menjadi perhatian pasar.

Nilai Tukar Rupiah Melemah 0,30% ke Rp18.135 per Dolar AS pada 27 Oktober, Sentimen Global Masih Membayangi
Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso/kye

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini. Pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi perkembangan geopolitik global yang memengaruhi sentimen investor serta arah perdagangan di pasar keuangan.

Mengacu pada data Bloomberg, rupiah dibuka pada posisi Rp18.139 per dolar AS pada Senin, 26 Oktober 2026, pukul 09.06 WIB di pasar spot. Angka tersebut mencerminkan pelemahan 4 poin atau 0,02%. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,11% ke level 102,070. Sementara itu, pada penutupan perdagangan hari yang sama, rupiah tercatat melemah 55 poin atau 0,30% ke posisi Rp18.135 per dolar AS.

Perkembangan Timur Tengah Menjadi Sorotan Pasar

Penguatan dolar AS berlangsung ketika sejumlah negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya mengupayakan langkah diplomatik untuk meredakan ketegangan. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menggelar pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada Senin, 26 Oktober 2026.

Arab Saudi menyebut kunjungan tersebut bertujuan membuka jalur negosiasi untuk mencegah eskalasi militer kembali terjadi. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa keempat negara sepakat melanjutkan pembicaraan guna memperkuat kerja sama dalam bidang perdamaian dan keamanan.

Perkembangan diplomatik tersebut menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar global. Ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Harga Minyak Mulai Turun, tetapi Masih Tinggi

Di pasar komoditas, harga minyak mentah bergerak turun tipis pada Selasa seiring munculnya harapan penyelesaian konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Prospek tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

Minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 66 sen atau 0,57% menjadi US$115,15 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 44 sen atau 0,43% ke posisi US$101,32 per barel pada pukul 00.00 GMT.

Meski terkoreksi, harga Brent masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa risiko pasokan energi global belum sepenuhnya mereda.

Aktivitas di Selat Hormuz Masih Mengundang Perhatian

Risiko geopolitik juga tercermin dari meningkatnya gangguan keamanan maritim. Berdasarkan data sebuah lembaga pemikir yang berbasis di Washington, Oktober 2026 menjadi bulan dengan jumlah serangan terbanyak terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan wilayah perairan sekitarnya.

Lembaga tersebut telah memantau insiden keamanan maritim di berbagai belahan dunia sejak 2017. Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian karena jalur ini memiliki peran penting dalam perdagangan energi internasional.

Di sisi lain, dua sumber industri melaporkan bahwa perusahaan penyulingan minyak Rusia meningkatkan produksi diesel selama Oktober 2026. Kenaikan produksi itu terjadi setelah pemerintah memberikan kuota ekspor menyusul kesepakatan pasokan antara Kremlin dan Amerika Serikat.

Berbagai perkembangan tersebut membuat pasar masih mencermati arah geopolitik dan pasokan energi. Bagi rupiah, pergerakan dolar AS, harga minyak, serta perubahan sentimen investor global menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.