Bisnis

Laba Bank Danamon (BDMN) Naik 18,67% Jadi Rp3,5 Triliun Hingga Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya

Bank Danamon membukukan laba Rp3,5 triliun hingga kuartal III-2026, tumbuh 18,67% berkat kenaikan kredit, NIM solid, dan risiko kredit terkendali.

Laba Bank Danamon (BDMN) Naik 18,67% Jadi Rp3,5 Triliun Hingga Kuartal III-2026, Ini Pendorongnya
Foto: Dok. Bank Danamon Indonesia

PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) mencatatkan pertumbuhan laba bersih konsolidasian sebesar 18,67% secara tahunan hingga kuartal III-2026. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp3,5 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,95 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan Kamis (29/10/2026), peningkatan laba tersebut didukung pertumbuhan kredit dan trade finance, margin bunga bersih konsolidasian yang menguat, serta perbaikan kualitas aset. Meski demikian, perseroan masih menghadapi tantangan dari sisi likuiditas dan kenaikan beban bunga.

Kredit Tumbuh, Simpanan Nasabah Ikut Meningkat

Penyaluran kredit dan trade finance konsolidasian Bank Danamon tumbuh 13% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut berjalan beriringan dengan peningkatan simpanan nasabah sebesar 12% sepanjang sembilan bulan pertama 2026.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu penopang kinerja intermediasi perseroan. Pertumbuhan kredit yang diikuti kenaikan simpanan turut menjadi perhatian dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi pembiayaan dan kebutuhan pendanaan.

Dari sisi kualitas aset, sejumlah indikator risiko kredit menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross tercatat sebesar 1,71%, sedangkan NPL net berada di level 0,08%.

Selain itu, rasio aset berkualitas rendah atau KKR turun menjadi 8%. Rasio loan at risk (LAR) juga membaik 190 basis poin menjadi 7,7%. Perbaikan indikator tersebut menunjukkan risiko kredit yang lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.

Margin Bunga Menguat, Biaya Provisi Menurun

Kinerja laba Bank Danamon turut ditopang margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) konsolidasian yang meningkat dari 7,26% menjadi 7,57%. Penguatan ini terjadi meskipun NIM pada tingkat bank secara individual mengalami sedikit tekanan. Kontribusi anak usaha membantu menjaga margin konsolidasian tetap solid.

Di sisi lain, biaya provisi konsolidasian turun 5,51% secara tahunan menjadi Rp3,81 triliun hingga kuartal III-2026. Penurunan biaya pencadangan tersebut turut mendukung pencapaian laba perseroan.

Namun, kenaikan beban bunga masih menjadi faktor yang perlu dicermati. Secara konsolidasian, beban bunga meningkat 5,26% secara tahunan, sedangkan pada tingkat bank saja kenaikannya mencapai 10,09%. Perkembangan ini berpotensi menekan profitabilitas apabila tidak diimbangi pengelolaan biaya yang efektif.

Likuiditas Menjadi Perhatian Perseroan

Tekanan juga terlihat pada indikator likuiditas. Rasio loan to deposit ratio (LDR) Bank Danamon mencapai 97,43% per September 2026, meningkat dibandingkan 92,97% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan tersebut menunjukkan penyaluran kredit semakin besar dibandingkan dana pihak ketiga yang dihimpun. Kondisi ini perlu dikelola agar pertumbuhan pembiayaan tetap berjalan seimbang dengan ketersediaan pendanaan.

Direktur Utama Danamon, Nobuya Kawasaki, mengatakan perayaan 70 tahun perjalanan perusahaan menjadi momentum untuk memasuki tahap pertumbuhan berikutnya. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan MUFG sebagai induk perusahaan serta jaringan lokal Danamon, Adira Finance, dan Home Credit Indonesia.

Nobuya menegaskan perseroan akan mempertahankan pertumbuhan yang sehat, menjaga kualitas aset, dan menciptakan nilai jangka panjang. Strategi bisnis juga akan dijalankan secara hati-hati dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan pasar.