Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Pergerakan mata uang Garuda menjadi perhatian setelah bank sentral Amerika Serikat atau The Fed mempertahankan suku bunga acuannya di tengah inflasi yang masih tinggi.
Pada penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah melemah 0,15 persen atau 28 poin ke level Rp18.184 per dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen penghindaran risiko dan arus keluar dana asing dari pasar saham domestik turut membebani pergerakan rupiah.
Rupiah Diproyeksikan Bergerak di Rp18.100-Rp18.250
Lukman memperkirakan rupiah masih tertekan pada perdagangan Kamis. Penguatan indeks dolar AS menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang domestik.
Pasar juga mencermati rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk inflasi PCE dan produk domestik bruto (PDB) kuartal III. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah kebijakan moneter berikutnya.
Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp18.100 hingga Rp18.250 per dolar AS. Pergerakan aktual tetap bergantung pada perkembangan sentimen global dan aktivitas transaksi di pasar keuangan.
Bank Indonesia Lakukan Stabilisasi Rupiah
Bank Indonesia (BI) menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga pergerakan rupiah tetap sesuai dengan fundamental ekonomi. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan bank sentral juga berkoordinasi dengan korporasi dan pelaku pasar.
Stabilisasi dilakukan melalui transaksi non-deliverable forward (NDF), domestic non-deliverable forward (DNDF), serta transaksi spot. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain penguatan dolar AS, ketidakpastian konflik di Timur Tengah turut menjadi perhatian. Kondisi geopolitik tersebut menjaga harga minyak tetap di atas US$115 per barel, jauh melampaui asumsi makro dalam APBN sebesar US$70 per barel.
Harga energi yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi sekaligus meningkatkan risiko fiskal. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang negara-negara di kawasan.
The Fed Pertahankan Suku Bunga 3,75%-4%
The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 persen hingga 4 persen dalam rapat FOMC pada 28 Oktober 2026 waktu Amerika Serikat. Keputusan itu disahkan melalui pemungutan suara dengan hasil 10 berbanding dua.
Dua pejabat, Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, berbeda pendapat karena menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan perhatian terhadap tekanan inflasi yang masih berlangsung.
Dalam pernyataan resminya, Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut aktivitas ekonomi AS tetap berkembang dengan kuat. Belanja domestik dan investasi masih menunjukkan ketahanan, sementara tingkat pengangguran relatif stabil.
Meski demikian, inflasi belum sepenuhnya terkendali. The Fed menegaskan perlunya mencermati tambahan data ekonomi untuk menentukan kebijakan yang mendukung kembalinya inflasi ke target 2 persen.
Keputusan suku bunga berikutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar, termasuk investor yang memantau pergerakan dolar AS dan rupiah.









