— Forum Koordinasi Pimpinan Kota (Forkopimko) Jakarta Barat menggelar pertemuan bersama masyarakat Kecamatan Tambora untuk membahas sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian di wilayah tersebut. Pertemuan berlangsung di Queen Restaurant, Roa Malaka, pada Jumat (18/9).

Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pemerintah, aparat keamanan, serta berbagai unsur masyarakat untuk bertukar informasi mengenai kondisi lingkungan Tambora. Sejumlah isu yang dibahas antara lain penanganan banjir dan genangan, pencegahan kebakaran di kawasan padat penduduk, hingga pengelolaan sampah.

Pemerintah Dorong Kolaborasi dengan Warga Tambora

Pertemuan Forkopimko dihadiri Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, Kapolres Jakarta Barat Nasriadi, unsur Kodim, Kantor Pertanahan atau BPN, Wakil Wali Kota Jakarta Barat Ali Murthadho, serta jajaran Pemerintah Kota Jakarta Barat.

Sejumlah unsur masyarakat juga hadir, mulai dari tokoh masyarakat dan tokoh agama, pengurus RT dan RW, FKDM, LMK, Karang Taruna, hingga berbagai elemen masyarakat Kecamatan Tambora.

Iin Mutmainnah mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda silaturahmi, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat.

Menurut Iin, kerja sama lintas unsur diperlukan untuk menangani persoalan yang berkaitan langsung dengan kehidupan warga. Semangat tersebut juga disebut sejalan dengan program Jaga Jakarta yang mencakup aspek kebersihan, keamanan, dan kesehatan.

Banjir dan Genangan Jadi Perhatian

Salah satu persoalan yang menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah mitigasi banjir dan genangan. Pemerintah Kota Jakarta Barat mendorong sejumlah langkah untuk mengurangi risiko genangan di kawasan Tambora.

Upaya tersebut mencakup pengerukan kali, pembangunan rumah pompa, serta pembenahan saluran air di lingkungan permukiman. Pemerintah juga mendorong masyarakat ikut menjaga kondisi saluran agar tidak tersumbat dan dapat berfungsi secara optimal ketika hujan turun.

Penanganan persoalan air tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga saluran lingkungan dinilai menjadi bagian penting agar langkah mitigasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kawasan Padat Diminta Waspada Kebakaran

Selain banjir, persoalan potensi kebakaran turut menjadi perhatian pemerintah. Kondisi wilayah Tambora yang memiliki kawasan padat dan sejumlah sentra usaha membuat aspek keselamatan perlu mendapat perhatian.

Iin meminta para pelaku usaha, terutama yang bergerak di kawasan sentra konveksi, memperhatikan penggunaan instalasi listrik. Pengelolaan limbah serta penerapan keselamatan kerja juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Pemkot Jakarta Barat turut mendorong keberadaan hidran mandiri di lingkungan usaha maupun permukiman. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat melakukan penanganan awal apabila terjadi kebakaran sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.

Langkah pencegahan dinilai penting karena penanganan kebakaran di kawasan padat membutuhkan respons cepat untuk mencegah api meluas ke bangunan di sekitarnya.

Pengelolaan Sampah Dimulai dari Sumber

Persoalan sampah juga masuk dalam pembahasan Forkopimko bersama warga Tambora. Pemerintah mendorong pengurangan volume sampah sekaligus pemilahan sejak dari sumber.

Pengembangan wilayah percontohan menjadi salah satu pendekatan yang didorong. Konsep tersebut dapat diterapkan di tingkat RW, kelurahan, perkantoran, pasar, hingga TPS 3R.

Melalui pemilahan dari sumber, sampah yang masih memiliki nilai guna dapat dipisahkan dari sampah lainnya. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus menjaga kebersihan lingkungan.

Program Tampan Libatkan Tiga Pilar

Camat Tambora Pangestu Aji mengatakan upaya penanganan persoalan wilayah juga dilakukan melalui program Tampan, yang merupakan singkatan dari Tambora Terpadu, Tertib, Aman, dan Nyaman.

Menurut Aji, program tersebut menjadi salah satu sarana kolaborasi antara tiga pilar dan masyarakat. Kegiatan dilakukan secara rutin setiap Rabu dengan agenda yang meliputi mitigasi, edukasi, sosialisasi, serta tindak lanjut terhadap persoalan yang membutuhkan penanganan segera.

Selama dua periode pelaksanaan, kegiatan tersebut telah menyasar 22 titik di wilayah Tambora. Sejumlah perbaikan dilakukan berdasarkan persoalan yang ditemukan di lapangan.

Aji menilai keterlibatan warga menjadi faktor penting dalam menjaga hasil penanganan. Pemerintah dan aparat tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat yang berada langsung di lingkungan tersebut.

Ia menyebut kegiatan bersama warga dapat membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Dengan keterlibatan berbagai pihak, persoalan kebersihan, keamanan, kesehatan, hingga kondisi wilayah dapat ditangani secara lebih terkoordinasi.

Pertemuan Forkopimko dengan masyarakat Tambora menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah dan warga. Sejumlah persoalan yang dibahas selanjutnya membutuhkan tindak lanjut secara bersama, terutama dalam menjaga lingkungan, mengurangi risiko banjir dan kebakaran, serta memperbaiki pengelolaan sampah di kawasan permukiman.