TOPIK.ID — Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Selasa, 8 September 2026. Penurunan terjadi ketika harga minyak mentah bergerak naik sehingga memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Meski terkoreksi cukup dalam, analis Societe Generale menilai prospek emas belum kehilangan daya tarik. Arus dana yang kuat ke instrumen investasi berbasis emas, ditambah tingginya minat dari berbagai kelompok investor, dinilai dapat menjadi fondasi bagi kelanjutan tren kenaikan harga logam mulia hingga akhir 2026.
Harga Emas Tertekan Kenaikan Minyak
Harga emas spot pada perdagangan Selasa ditutup melemah 1,15% ke level US$4.355,55 per troy ounce. Penurunan lebih dalam terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Desember yang anjlok 1,71% dan berakhir di US$4.400 per troy ounce.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu sentimen yang membebani emas. Harga energi yang meningkat dapat mendorong tekanan inflasi sehingga pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve.
Kondisi tersebut biasanya menjadi tantangan bagi emas karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil. Namun, koreksi terbaru belum membuat Société Générale mengubah pandangan strategisnya terhadap logam mulia tersebut.
Arus Dana ETF Emas Mencapai Rekor
Analis Société Générale, Michael Haigh dan Jeremy Sellem, melihat pasar emas kini memasuki tahap baru dalam tren bullish 2026. Menurut mereka, kenaikan harga tidak lagi hanya ditopang aktivitas spekulatif, tetapi mulai memperoleh dukungan lebih luas dari berbagai kategori pelaku pasar.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah derasnya arus dana menuju ETF emas. Sepanjang Agustus 2026, ETF emas mencatat arus masuk bersih mencapai 201 ton.
Angka tersebut menjadi salah satu arus masuk bulanan terbesar yang pernah tercatat berdasarkan volume. Société Générale mencatat pencapaian tersebut bahkan melampaui arus dana yang terjadi pada Maret 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina dan September 2012 setelah Federal Reserve mengumumkan program QE3.
Menurut analis tersebut, besarnya eksposur investor terhadap emas menjadi semakin menarik karena terjadi ketika harga emas berada sekitar US$1.000 per troy ounce lebih rendah dibandingkan level acuan tertentu yang mereka bandingkan.
Faktor Struktural Menopang Harga Emas
Société Générale menilai posisi pasar emas yang semakin luas berpotensi memberikan ruang bagi kenaikan harga dalam jangka menengah. Eksposur tidak hanya datang dari investor ritel, tetapi juga manajer investasi profesional dan pelaku perdagangan derivatif.
Dukungan lain berasal dari faktor struktural yang dinilai dapat menjaga batas bawah harga emas tetap tinggi. Pembelian emas oleh bank sentral, kecenderungan dedolarisasi, ketidakpastian geopolitik, serta kekhawatiran terhadap kondisi utang pemerintah menjadi sejumlah faktor yang diperhitungkan.
Situasi tersebut membuat dampak negatif dari imbal hasil riil yang tinggi terhadap emas tidak sepenuhnya dominan. Bahkan ketika imbal hasil riil masih positif, harga emas tetap mampu bertahan dekat dengan level tertinggi.
Inflasi AS Masih Jadi Perhatian Investor
Société Générale tetap mempertahankan pandangan bullish secara strategis terhadap emas. Bank asal Prancis itu menilai logam mulia masih memiliki fungsi penting sebagai aset lindung nilai ketika kebijakan moneter dan ekonomi global menghadapi ketidakpastian.
Tekanan dari suku bunga tinggi dan dolar AS yang menguat memang masih menjadi risiko. Namun, analis menilai sebagian besar penyesuaian ekspektasi terhadap sikap hawkish Federal Reserve sudah tercermin dalam harga pasar.
Di sisi lain, inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya mereda dapat membuat investor tetap mempertahankan alokasi strategis terhadap emas. Dengan dukungan arus investasi yang kuat serta berbagai faktor struktural, koreksi harga pada 8 September dinilai belum cukup untuk mengubah prospek emas dalam jangka menengah.
Ikuti TOPIK.ID
