— Harga emas dunia tercatat menguat pada akhir perdagangan Rabu (2/9/2026), bangkit dari pelemahan yang berlangsung hampir sebulan. Penguatan ini didorong oleh penurunan nilai dolar Amerika Serikat (AS) serta imbal hasil obligasi pemerintah AS yang turut terkoreksi dari level tertingginya.

Investor kini menanti rilis data ketenagakerjaan AS yang dijadwalkan pada akhir pekan ini. Data tersebut diharapkan dapat memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip laporan Reuters, harga emas spot tercatat naik 1,1 persen mencapai 4.376,41 dollar AS per troy ounce. Posisi ini memulihkan harga dari level terendah yang sempat dicapai sejak 7 Agustus 2026 pada sesi perdagangan sebelumnya. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember juga menguat 0,4 persen menjadi 4.414,60 dollar AS per troy ounce.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama kembalinya emas ke jalur penguatan adalah penurunan imbal hasil obligasi. “Hal tersebut memungkinkan harga emas memantul dari beberapa level terendah baru-baru ini,” ujarnya. Meger menambahkan bahwa sektor energi dan imbal hasil obligasi akan terus menjadi fokus utama pasar emas ke depan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami penurunan setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir pada perdagangan Rabu. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan melemahnya harga minyak dan sejumlah data ekonomi terbaru yang dicermati investor.

Dolar AS pun terpantau melemah dari level tertingginya dalam hampir tiga pekan terakhir. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, sebelumnya menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang tidak disebabkan oleh kekhawatiran inflasi, melainkan mencerminkan soliditas kondisi perekonomian.

Di sisi lain, pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS pada Agustus 2026 dilaporkan berada di bawah ekspektasi. Namun, pergerakan harga emas relatif terbatas karena mayoritas pelaku pasar lebih memilih menunggu laporan nonfarm payrolls yang akan dirilis pada Jumat pekan ini.

Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O’Connell, menekankan pentingnya data nonfarm payrolls tersebut. “Data nonfarm payrolls sejauh ini merupakan yang paling penting bagi pasar,” katanya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September ini mencapai 64 persen. Data ketenagakerjaan AS menjadi perhatian utama investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed.

Jika pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan, ekspektasi penurunan suku bunga dapat meningkat dan berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas. Sebaliknya, data ekonomi yang kuat berisiko memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, yang dapat menekan harga emas.

Logam mulia lainnya juga dilaporkan menguat pada perdagangan Rabu. Harga perak spot naik 1,2 persen menjadi 65,03 dollar AS per troy ounce. Platinum menguat 0,9 persen ke level 1.756,39 dollar AS per troy ounce, sementara palladium melonjak 3,18 persen menjadi 1.352,74 dollar AS per troy ounce.