— Harga emas kembali bergerak naik pada perdagangan Kamis (10/9/2026), meski ruang penguatan masih terbatas. Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke serangkaian data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot tercatat naik 0,25% menjadi US$4.413,38 per ons troi saat berita ditulis. Namun, kontrak emas berjangka justru melemah tipis 0,09% ke level US$4.456,9 per ons troi. Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan investor masih berhati-hati menghadapi kombinasi kenaikan yield Treasury, ketegangan geopolitik, dan potensi perubahan ekspektasi suku bunga AS.

Inflasi AS Jadi Fokus Utama Investor

Perhatian pasar tertuju pada rilis Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis dan Consumer Price Index (CPI) pada Jumat. Kedua indikator tersebut akan menjadi bahan pertimbangan penting bagi investor dalam memperkirakan keputusan The Fed pada pertemuan 15-16 September 2026.

Pasar swap saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 65% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September. Sementara itu, survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom masih memprediksi bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut.

Perbedaan antara ekspektasi pasar dan proyeksi ekonom membuat data inflasi memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan aset ke depan. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga dapat semakin menguat.

Kondisi tersebut berpotensi mendorong dolar AS dan yield obligasi pemerintah AS naik. Bagi emas yang tidak memberikan bunga, situasi tersebut biasanya menjadi tekanan karena biaya peluang memegang logam mulia meningkat.

Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan terhadap emas sekaligus membuka ruang bagi investor untuk meningkatkan kembali kepemilikan logam mulia.

Yield Treasury dan Minyak Tekan Harga Emas

Dalam beberapa pekan terakhir, emas cenderung bergerak dalam kisaran sempit di sekitar US$4.400 per ons troi setelah sebelumnya pulih dari kisaran US$4.000 pada Juli.

Kenaikan yield Treasury AS menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan emas. Yield obligasi AS bertenor 10 tahun kembali meningkat setelah rencana pemerintah AS membeli surat utang jangka panjang hingga US$6 miliar belum memberikan dampak signifikan terhadap yield di pasar.

Tekanan lainnya datang dari harga minyak. Brent telah kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli. Lonjakan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar bahwa biaya energi dapat kembali memperkuat tekanan inflasi.

Ketegangan Timur Tengah yang memasuki bulan ketujuh juga menambah risiko terhadap pasokan energi global. Kondisi ini membuat investor semakin memperhatikan kemungkinan dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan bank sentral.

Arus Dana ETF Menunjukkan Minat Emas

Di tengah berbagai tekanan tersebut, minat investor terhadap emas masih tergolong kuat. World Gold Council mencatat ETF berbasis emas global menerima arus dana masuk US$18 miliar sepanjang Agustus.

Angka tersebut menjadi arus dana masuk bulanan terbesar kedua dalam sejarah. Kepemilikan emas ETF global juga meningkat 121 ton menjadi rekor 4.189 ton, sementara AUM melonjak 16% menjadi US$615 miliar.

Analis senior IG Tony Sycamore menilai emas masih berada di bawah rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar US$4.537 per ons troi. Menurutnya, emas perlu menembus level tersebut untuk mengonfirmasi bahwa koreksi dari rekor US$4.697 telah berakhir dan tren bullish jangka panjang kembali berlanjut.