— Harga emas memang menghadapi tekanan dalam beberapa pekan terakhir, tetapi UBS menilai kondisi tersebut belum mengubah posisi logam mulia sebagai aset strategis dalam portofolio investasi. Bank asal Swiss itu melihat prospek emas tetap positif di tengah meningkatnya risiko fiskal, inflasi, dan ketegangan geopolitik.

Chief Investment Office UBS menyebut kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, pernyataan hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, serta data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan menjadi faktor yang menekan emas dalam jangka pendek. Namun, tekanan tersebut dinilai tidak cukup untuk menghilangkan daya tarik emas dalam jangka menengah hingga panjang.

Yield Tinggi Menjadi Tekanan Jangka Pendek

UBS memperkirakan imbal hasil riil yang lebih tinggi dan penguatan dolar AS masih menjadi tantangan bagi harga emas dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas menjadi relatif kurang menarik dibandingkan instrumen berbasis bunga.

Meski demikian, UBS memisahkan faktor jangka pendek tersebut dari prospek strategis emas. Menurut analisnya, perubahan arah kebijakan The Fed tidak serta-merta menghilangkan fungsi emas sebagai instrumen diversifikasi.

Bagi investor, emas tetap memiliki karakteristik sebagai aset riil yang dapat digunakan untuk mengurangi ketergantungan portofolio terhadap pergerakan saham, mata uang, maupun obligasi.

Bank Sentral Terus Menambah Cadangan Emas

Salah satu alasan utama UBS mempertahankan pandangan positif adalah berlanjutnya permintaan dari bank sentral. People’s Bank of China tercatat membeli 650.000 ons emas atau sekitar 20 metrik ton pada Agustus 2026.

Pembelian tersebut meningkat dibandingkan 640.000 ons pada Juli dan menjadi akumulasi bulanan terbesar China sejak Oktober 2023. Tren ini menunjukkan bahwa permintaan institusional terhadap emas masih relatif kuat.

China juga bukan satu-satunya bank sentral yang meningkatkan perhatian terhadap logam mulia. Survei World Gold Council menunjukkan hampir 90% bank sentral yang menjadi responden memperkirakan cadangan emas resmi global akan bertambah dalam 12 bulan mendatang. Sebanyak 45% bahkan memperkirakan cadangan emas di institusinya sendiri meningkat.

Risiko Fiskal Dorong Diversifikasi dari Dolar

UBS juga melihat persoalan fiskal sebagai katalis struktural bagi emas. Tingginya utang pemerintah dapat mendorong negara dan investor mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap dolar AS.

Dalam kondisi tersebut, emas dinilai memiliki posisi sebagai penyimpan nilai sekaligus alternatif terhadap mata uang cadangan tradisional. Apabila dolar AS mengalami pelemahan dalam jangka menengah hingga panjang, permintaan terhadap emas berpotensi ikut mendapatkan dukungan.

Faktor ini menjadi semakin relevan ketika kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal dan kebijakan ekonomi global terus meningkat.

Emas Tetap Dibutuhkan untuk Lindung Nilai

Selain diversifikasi, UBS menilai emas memiliki fungsi penting sebagai perlindungan terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik. Inflasi yang sulit ditekan dan meningkatnya risiko global dapat memperkuat kebutuhan investor terhadap aset lindung nilai.

Karena itu, UBS melihat emas bukan sekadar instrumen untuk merespons keputusan The Fed berikutnya. Investor dengan alokasi emas yang masih rendah dinilai dapat memanfaatkan periode pelemahan harga untuk membangun eksposur secara bertahap.

Dengan kombinasi pembelian bank sentral, risiko fiskal, potensi pelemahan dolar, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik, UBS mempertahankan pandangan bahwa emas masih memiliki peran strategis dalam portofolio yang terdiversifikasi.