— Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi potensi koreksi pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Pelaku pasar perlu mencermati tekanan dari kenaikan harga minyak, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta eskalasi konflik Amerika dan Iran yang dapat meningkatkan volatilitas pasar.

Pada perdagangan sehari sebelumnya, IHSG ditutup turun 8,24 poin atau 0,12% ke level 6.678. Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,41%, sedangkan sektor kesehatan mencatat pelemahan paling dalam sebesar 1,33%. Pilarmas Investindo Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak terbatas dengan rentang support dan resistance 6.600-6.710.

Konflik Timur Tengah Jadi Bayang-Bayang Pasar

Eskalasi hubungan Amerika dan Iran masih menjadi faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen investor. Iran menyatakan siap meningkatkan serangan balasan apabila serangan terhadap negara tersebut dan infrastrukturnya terus dilakukan.

Dampak konflik juga terlihat pada pasar energi. Harga minyak WTI berada di sekitar US$97 per barel, sedangkan Brent telah menembus US$101,21 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan konflik dapat berakhir dalam beberapa pekan mendatang. Pemerintah Iran sendiri masih membuka ruang negosiasi, meskipun meminta pencabutan blokade dan kembalinya kesepakatan perdamaian sebagai bagian dari proses tersebut.

Yield Treasury Naik, Data Inflasi Jadi Perhatian

Tekanan terhadap pasar semakin kompleks karena kenaikan harga minyak berpotensi mendorong inflasi Amerika Serikat. Kondisi tersebut ikut membuat yield US Treasury 10 tahun bergerak naik hingga menyentuh level tertinggi sejak 2023.

Investor kini menunggu sejumlah indikator ekonomi penting. Data PPI Amerika Serikat menjadi salah satu perhatian pada Kamis, sementara data inflasi yang akan dirilis pada 11 September menjadi agenda utama yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.

Pilarmas menilai kondisi domestik relatif lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Pergerakan IHSG mulai menunjukkan pemulihan, sementara yield obligasi domestik yang masih terkendali perlahan meningkatkan daya tarik aset Indonesia.

Kondisi Fiskal Indonesia Masih Jadi Penopang

Dari dalam negeri, pemerintah menargetkan rasio utang terhadap PDB berada pada kisaran 40,31%-40,64% pada 2027. Yield Surat Berharga Negara (SBN) diproyeksikan berada di rentang 6,5%-7,3%, dengan asumsi tengah 6,9%.

Basis investor SBN ritel juga terus berkembang. Jumlah investor telah mencapai sekitar 1,081 juta orang, sementara penerbitan SBN ritel ditargetkan Rp160-170 triliun pada 2026, meningkat dari Rp152 triliun pada 2025.

Menurut Pilarmas, kondisi tersebut menunjukkan pemerintah masih berupaya menjaga keberlanjutan fiskal. Namun, risiko kenaikan biaya utang tetap perlu diperhatikan apabila suku bunga global bertahan tinggi.

Tiga Saham Tambang Masuk Pilihan Trading

Di tengah potensi koreksi IHSG, Pilarmas Investindo Sekuritas memilih tiga saham untuk strategi trading pada Kamis (10/9/2026).

Ketiga saham tersebut adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Ketiganya memiliki keterkaitan dengan sektor pertambangan dan komoditas logam yang tengah menjadi perhatian pasar. Rekomendasi tersebut menjadi pilihan Pilarmas ketika investor menghadapi kondisi IHSG yang masih rentan terhadap sentimen global.