Market

Harga Batu Bara Menguat pada Mayoritas Kontrak, Permintaan China dan India Jadi Penopang

Harga batu bara Newcastle dan Rotterdam mayoritas menguat pada 23 Oktober 2026, didorong permintaan Asia dan keterbatasan pasokan global.

Harga Batu Bara Menguat pada Mayoritas Kontrak, Permintaan China dan India Jadi Penopang
Foto: Dok. KabarBursa

Harga batu bara global menunjukkan penguatan pada mayoritas kontrak perdagangan Jumat (23/10/2026). Permintaan dari China dan India, terbatasnya pasokan di sejumlah negara produsen, serta kenaikan harga gas alam menjadi faktor yang menopang pergerakan komoditas energi tersebut.

Mengacu pada data perdagangan, kontrak batu bara Newcastle dan Rotterdam mencatat kenaikan pada sebagian besar periode pengiriman. Meski kontrak Oktober Newcastle terkoreksi, harga untuk kontrak November dan Desember bergerak naik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar masih mendapatkan dukungan dari kebutuhan energi Asia dan persaingan bahan bakar untuk pembangkit listrik.

Kontrak Newcastle dan Rotterdam Bergerak Beragam

Batu bara Newcastle kontrak Oktober 2026 turun US$ 0,45 menjadi US$ 150,7 per ton. Sebaliknya, kontrak November meningkat US$ 0,55 ke posisi US$ 155 per ton, sedangkan kontrak Desember naik US$ 0,65 menjadi US$ 156,85 per ton.

Penguatan juga terjadi pada seluruh kontrak batu bara Rotterdam yang disebutkan dalam data perdagangan. Kontrak Oktober bertambah US$ 1 menjadi US$ 147 per ton. Kontrak November naik US$ 1,2 ke level US$ 151,95 per ton, sementara kontrak Desember menguat US$ 1,6 menjadi US$ 152,5 per ton.

Mengutip MiningMX, analis UBS memperkirakan harga batu bara termal masih berpeluang bertahan kuat dalam waktu dekat. Permintaan musiman, kendala produksi, dan mahalnya gas alam menjadi kombinasi yang mendukung pasar.

China dan India Meningkatkan Kebutuhan Batu Bara

Di China, stok batu bara milik perusahaan pembangkit listrik dan pelabuhan dilaporkan berada di bawah tingkat normal. Situasi tersebut terjadi ketika produksi tambang masih menghadapi keterbatasan akibat inspeksi keselamatan setelah kecelakaan pada Mei lalu.

Tekanan terhadap pasokan turut tercermin dari kenaikan harga batu bara domestik China. UBS mencatat harganya telah melampaui 1.000 yuan per ton, meningkat dari sekitar 818 yuan per ton pada Juli.

India juga berkontribusi terhadap peningkatan permintaan global. Produksi listrik berbahan bakar batu bara di negara itu tumbuh 13% secara tahunan pada September. Pemulihan aktivitas setelah musim hujan dan melemahnya produksi listrik tenaga air membuat kebutuhan batu bara kembali meningkat.

Persediaan India yang berada di bawah tingkat normal turut mendorong kebutuhan impor untuk memenuhi konsumsi pembangkit listrik maupun sektor industri. S&P Global sebelumnya melaporkan permintaan India ikut menopang harga batu bara Richards Bay dari Afrika Selatan.

Gangguan Ekspor Indonesia dan Kenaikan Harga Gas

Dari sisi pasokan, ekspor batu bara Indonesia menghadapi hambatan akibat rendahnya permukaan air sungai yang mengganggu pengangkutan menggunakan tongkang. Kebakaran dan meningkatnya kebutuhan domestik turut memengaruhi ketersediaan pasokan untuk pasar luar negeri.

Meski demikian, UBS menilai datangnya musim hujan pada Oktober berpotensi membantu pengangkutan batu bara yang sebelumnya tertimbun menuju pasar ekspor.

Faktor lain yang mendukung harga adalah kenaikan gas alam. Harga acuan gas Eropa TTF mencapai 89 euro per megawatt-jam, sedangkan LNG Asia menyentuh US$ 29 per MMBtu, tertinggi sejak 2022. Gangguan pasokan dari Timur Tengah dan rendahnya persediaan ikut memengaruhi kenaikan tersebut.

Ketika gas semakin mahal, pembangkit listrik yang dapat menggunakan beberapa jenis bahan bakar berpeluang kembali mengandalkan batu bara. Kombinasi permintaan Asia, keterbatasan pasokan, dan kenaikan harga gas pun menjadi penopang utama pasar batu bara dalam jangka pendek.