— Harga minyak mentah Brent kembali menembus level psikologis US$100 per barel pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Lonjakan ini menjadi sinyal baru bagi pasar energi setelah eskalasi konflik di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap keamanan pasokan dan jalur distribusi minyak dunia.

Kontrak Brent bulan terdekat menguat US$2,74 atau 2,8% ke US$100,66 per barel setelah sempat menyentuh US$100,95. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik US$2,74 atau 3% menjadi US$95,77 per barel. Keduanya mencatat kenaikan harian terbesar secara persentase sejak 1 September.

Konflik Timur Tengah Kembali Mengubah Sentimen Pasar

Kenaikan harga minyak terjadi ketika pelaku pasar mulai memperhitungkan risiko konflik Timur Tengah yang berpotensi berlangsung lebih lama. Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari, harga Brent bahkan sempat mencapai US$126,41 per barel pada 30 April.

Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen menilai penguatan Brent di atas US$100 mencerminkan perubahan ekspektasi pasar terhadap durasi krisis dan konsekuensinya terhadap pasokan energi.

Eskalasi terbaru mencakup serangan pasukan AS terhadap kapal tanker minyak Iran, serangan Iran terhadap pangkalan AS di Yordania serta sejumlah kapal. Insiden yang melibatkan tanker produk minyak berbendera Gibraltar, Hercules Star, juga dilaporkan menewaskan seorang pelaut di lepas pantai Dubai.

Risiko pasokan semakin besar setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Sejumlah instalasi minyak dilaporkan mengalami kebakaran sehingga pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga.

Selat Hormuz Jadi Titik Perhatian Utama

Salah satu perhatian terbesar pasar kini tertuju pada Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut sebelumnya dilewati sekitar 8 juta hingga 9 juta barel minyak per hari sebelum pertempuran kembali meningkat pada 30 Agustus 2026.

Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti mengatakan arus minyak melalui Selat Hormuz kini turun menjadi kurang dari 2 juta barel per hari. Data awal Kpler juga menunjukkan hanya enam kapal komoditas melintasi jalur tersebut pada Selasa (8/9), turun dari sembilan kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 12 kapal.

Ekonom Senior Iklim dan Komoditas Capital Economics Hamad Hussain menilai berkurangnya aktivitas transfer minyak antarkapal di Teluk Oman menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati. Aktivitas tersebut sebelumnya membantu menjaga kelancaran pasokan ke pasar global.

Pasar Fisik Sudah Lebih Dulu Mengalami Tekanan

Harga minyak fisik bahkan telah melewati US$100 sebelum kontrak Brent berjangka. Data LSEG menunjukkan dated Brent sudah berada di atas level tersebut sejak 3 September.

Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga merambat ke produk olahan. Harga acuan diesel Eropa berada sekitar US$199 per barel, sedangkan margin pengilangan diesel sempat mencapai US$78,90 per barel pada 1 September.

Kondisi ini jauh di atas rata-rata margin diesel sebesar US$21 per barel pada 2025 dan US$19,52 pada 2024. Wood Mackenzie menilai keterbatasan kapasitas pengilangan akibat turunnya ekspor melalui Selat Hormuz dan Rusia turut memperketat pasar.

Kenaikan minyak dan bahan bakar tersebut berpotensi kembali meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi bank sentral, situasi ini menjadi tantangan tambahan karena harga energi yang lebih tinggi dapat memperumit upaya menjaga inflasi tetap terkendali.