Market

Harga Perak Antam (ANTM) Naik Rp 450 Jadi Rp 34.100 per Gram pada Senin 2 November

Harga perak Antam kembali menguat Rp 450 menjadi Rp 34.100 per gram pada 2 November 2026, sementara prospek pasar global masih dibayangi tekanan.

Harga Perak Antam (ANTM) Naik Rp 450 Jadi Rp 34.100 per Gram pada Senin 2 November

Harga perak murni produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam kembali bergerak naik pada perdagangan Senin, 2 November 2026. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia tersebut mengalami penurunan cukup dalam dalam dua perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan informasi pada laman Logam Mulia, harga perak Antam bertambah Rp 450 menjadi Rp 34.100 per gram. Pada Sabtu (31/10/2026), harganya sempat terkoreksi Rp 2.000 ke posisi Rp 33.650 per gram setelah lebih dahulu turun Rp 1.050 pada Jumat (30/10/2026) menjadi Rp 35.650 per gram.

Daftar Harga Perak Antam untuk Pecahan 250 dan 500 Gram

Selain harga per gram, Antam juga menetapkan harga untuk produk perak dengan ukuran lebih besar. Pada perdagangan Senin, harga dasar perak murni ukuran 250 gram berada di angka Rp 8.925.000.

Apabila memperhitungkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11%, harga produk tersebut menjadi Rp 9.906.750. Sementara itu, perak dengan berat 500 gram memiliki harga dasar Rp 17.050.000.

Setelah ditambahkan PPN 11%, konsumen perlu membayar Rp 18.925.500 untuk produk perak Antam ukuran 500 gram. Perbedaan harga tersebut mengikuti berat produk serta komponen pajak yang berlaku.

Harga Perak Global Bergerak Naik, Tekanan Pasar Belum Hilang

Di pasar internasional, harga perak spot tercatat meningkat 1,37% menjadi US$ 49,72 per ons. Pergerakan positif tersebut berlangsung ketika sejumlah analis masih melihat adanya tantangan bagi logam putih tersebut dalam jangka pendek.

Mengutip Kitco News, analis memperkirakan tekanan jual terhadap perak masih berpotensi berlanjut. Pelemahan minat investasi dan membaiknya likuiditas di pasar fisik disebut menjadi sejumlah faktor yang dapat membatasi pergerakan harganya.

Analis Metals Focus juga mencatat perubahan rasio emas terhadap perak. Indikator tersebut telah menembus angka 76 untuk pertama kalinya sejak Desember 2025. Posisi itu lebih tinggi dibandingkan kisaran 60 hingga 70 yang mendominasi sebagian besar periode musim panas.

Rasio emas-perak digunakan untuk menggambarkan perbandingan harga kedua logam tersebut. Kenaikan rasio menunjukkan bahwa harga emas mengalami penguatan relatif lebih besar dibandingkan perak, atau perak mencatat kinerja yang lebih lemah dalam periode pengamatan.

Prospek Perak Masih Dipengaruhi Suku Bunga dan Imbal Hasil Obligasi

Meski rasio emas-perak masih berada di bawah rata-rata 82 selama periode 2020–2025, Metals Focus melihat peluang kenaikan lebih lanjut pada indikator tersebut. Perak dinilai masih menghadapi sejumlah hambatan, dengan rasio itu tercatat meningkat lebih dari 11% sepanjang tahun ini.

Dalam perkembangan sebelumnya, harga perak sempat diperdagangkan pada level US$ 52,06 per ons sebelum mengalami penurunan lebih dari 3%. Pergerakan tersebut memperlihatkan tekanan yang masih membayangi pasar perak global.

Namun, Metals Focus tidak memperkirakan ketertinggalan kinerja perak terhadap emas akan berlangsung dalam waktu lama. Para analis memperkirakan pergerakan perak masih akan mengikuti arah harga emas selama 12 bulan mendatang.

Untuk jangka pendek, tingginya suku bunga dan imbal hasil obligasi tetap menjadi risiko bagi harga perak. Kedua faktor tersebut berpotensi membatasi minat terhadap logam mulia, sehingga arah pergerakannya masih perlu dicermati di tengah perubahan kondisi pasar global.