Topik.ID — IHSG kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat, 11 September 2026. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 47,9 poin atau 0,73% ke level 6.541,3, seiring dominasi sentimen negatif di pasar saham domestik.
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham justru mampu mencatat kenaikan signifikan. Lima saham bahkan menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA), sementara beberapa saham lainnya masuk jajaran top gainers dengan kenaikan harga hingga lebih dari 20% dalam sehari.
Lima Saham Melonjak Saat IHSG Tertekan
Pergerakan pasar pada akhir pekan menunjukkan tekanan jual masih cukup dominan. Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 197 saham berhasil menguat, sedangkan 471 saham melemah dan 295 saham lainnya bergerak stagnan.
Total nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp14,3 triliun. Dari sejumlah saham yang mencatat penguatan tajam, lima emiten menjadi perhatian karena mampu memberikan cuan hingga 24% dalam satu sesi perdagangan.
PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) menjadi saham dengan kenaikan tertinggi. Harga PTSN melonjak 24,8% menjadi Rp372 per saham.
Selanjutnya, PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) naik 24,3% ke Rp505, sedangkan PT Mitra Investindo Tbk (MITI) juga menguat 24,3% menjadi Rp286.
Penguatan berikutnya dicatat PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang naik 20% ke Rp15.600. Sementara PT Martina Berto Tbk (MBTO) meningkat 19,15% menjadi Rp168 per saham.
Sektor Kesehatan Jadi Penahan Pelemahan
Dari sisi sektoral, hanya satu sektor yang mampu berakhir di zona hijau. Sektor kesehatan menguat 3,9% dan menjadi penopang di tengah tekanan mayoritas sektor lainnya.
Sebaliknya, sektor barang konsumen primer terkoreksi 1,25%, diikuti energi sebesar 1,22% dan infrastruktur 1,2%. Sektor barang konsumen non-primer turun 1,19%, sedangkan transportasi melemah 1,13%.
Tekanan juga terlihat pada sektor teknologi yang turun 0,71%, barang baku 0,7%, properti 0,6%, perindustrian 0,2%, serta keuangan 0,11%.
Di kelompok saham LQ45, PT Indosat Tbk (ISAT) menjadi salah satu saham yang mencatat penguatan dengan kenaikan 1,25%.
Geopolitik dan Inflasi AS Jadi Beban Pasar
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai ketegangan Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang membebani sentimen investor. Harga minyak mentah juga masih tinggi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang Iran berpotensi belum berakhir hingga pemilihan paruh waktu AS pada November.
Harga minyak di atas US$100 per barel dinilai dapat meningkatkan risiko inflasi global sekaligus menambah tekanan terhadap anggaran pemerintah melalui subsidi energi.
Pasar juga mencermati perkembangan inflasi AS. Data PPI final demand secara bulanan naik dari 0,1% menjadi 0,4%, sementara secara tahunan meningkat dari 4,3% menjadi 4,6%.
Dari domestik, Indeks Penjualan Riil Juli 2026 tumbuh 1,1% secara tahunan, membaik dibandingkan kontraksi 3% pada Juni. Namun, kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan investor.
Di sisi lain, tekanan terbesar datang dari saham PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) yang anjlok 14,5% ke Rp106. PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) turun 10,9% menjadi Rp73 dan PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) merosot 10,8% ke Rp148. PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) jatuh 10% menjadi Rp448, sedangkan PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) terkikis 9,8% ke Rp595.
Ikuti Topik.ID
