TOPIK.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu, 9 September 2026. Namun, kenaikan indeks diprediksi berlangsung terbatas karena pasar masih menghadapi sejumlah sentimen global yang berpotensi meningkatkan volatilitas.
Pada perdagangan sehari sebelumnya, IHSG berhasil menguat 66,77 poin atau 1,01% ke level 6.686. Hampir seluruh sektor bergerak positif, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2%, sementara sektor kesehatan menjadi sektor dengan penguatan paling rendah, yakni 0,59%.
IHSG Berpeluang Bergerak di Rentang 6.600-6.710
Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya memperkirakan IHSG masih mampu mempertahankan momentum positif. Berdasarkan analisis teknikal, indeks diproyeksikan menguat terbatas dengan area support di 6.600 dan resistance pada 6.710.
Pergerakan pasar domestik tetap akan dipengaruhi perkembangan global, khususnya arah kebijakan bank sentral dan dinamika harga komoditas. Investor juga perlu mencermati potensi perubahan ekspektasi suku bunga setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tekanan inflasi yang masih perlu diperhatikan.
Dari Asia, penguatan upah di Jepang menjadi salah satu perhatian pasar. Japan Labor Cash Earnings secara tahunan meningkat dari 4% menjadi 4,7%, sementara Japan Real Cash Earnings naik dari 2,2% menjadi 2,4%.
Kenaikan upah tersebut menunjukkan daya beli masyarakat Jepang masih mendapatkan dukungan meskipun inflasi belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini turut memperbesar peluang Bank Sentral Jepang menaikkan suku bunga pada pertemuan 18 September mendatang.
Ancaman Inflasi Global Kembali Menguat
Tekanan terhadap inflasi juga datang dari perkembangan geopolitik. Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak sehingga harga energi kembali bergerak naik.
Pilarmas mencatat minyak WTI telah berada di US$94,33 per barel, sedangkan Brent mencapai US$97,92 per barel. Harga tersebut semakin mendekati level US$100 per barel dan berpotensi menembusnya apabila ketegangan geopolitik terus meningkat.
Kenaikan harga minyak dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi global. Situasi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi keputusan The Fed mengenai suku bunga.
Pilarmas memperkirakan peluang kenaikan Fed Rate pada September mencapai 62,7%. Bank sentral Amerika Serikat juga diperkirakan masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga satu hingga dua kali hingga akhir tahun.
Restrukturisasi Utang Whoosh Jadi Sentimen Domestik
Dari dalam negeri, restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan pasar.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut tenor utang Whoosh telah direstrukturisasi hingga 80 tahun. Dengan tenor tersebut, cicilan tahunan diperkirakan berada di sekitar Rp1 triliun atau sedikit di bawahnya.
Pemerintah juga akan mengambil alih pengelolaan kewajiban Whoosh dari Danantara mulai 15 September 2026. Opsi pengelolaan dapat melibatkan SMI maupun INA.
Dalam jangka pendek, restrukturisasi tersebut dinilai positif karena dapat mengurangi beban cicilan tahunan. Namun, tenor yang sangat panjang tetap membuat kewajiban proyek berlangsung dalam jangka waktu lintas generasi.
Rencana memperluas jaringan kereta cepat hingga Jawa Timur juga dinilai berpotensi meningkatkan keekonomian jaringan. Meski demikian, ekspansi tetap perlu mempertimbangkan permintaan penumpang dan kemampuan proyek menghasilkan arus kas.
Tiga Saham Pilihan untuk Trading
Di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi sentimen global, Pilarmas Investindo Sekuritas memberikan tiga rekomendasi saham untuk perdagangan Rabu.
Ketiga saham tersebut adalah PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Ketiganya direkomendasikan untuk strategi trading dengan mempertimbangkan peluang pergerakan harga jangka pendek. Sementara itu, pasar obligasi diperkirakan masih bergerak dalam rentang tertentu, dengan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berada di kisaran 7,1%-7,15%.
Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, IHSG dinilai masih memiliki peluang bertahan di zona positif, meski risiko koreksi tetap terbuka sepanjang perdagangan.
Ikuti TOPIK.ID
