— Pergerakan IHSG pada Senin (14/9/2026) berlangsung sangat volatil. Indeks sempat tertekan lebih dari 2,5% hingga menyentuh 6.371,40 sebelum berbalik tajam menjelang penutupan setelah pemerintah mengumumkan pergantian Menteri Keuangan.

IHSG yang dibuka pada level 6.533,87 akhirnya mampu memangkas hampir seluruh penurunan dan ditutup di 6.534,69 atau turun tipis 0,10%. Nilai transaksi mencapai Rp17,62 triliun dengan frekuensi sekitar 2,11 juta transaksi, menunjukkan tingginya respons pelaku pasar terhadap perubahan sentimen sepanjang perdagangan.

Pergantian Menkeu Picu Pembalikan IHSG

Tekanan jual sejak awal perdagangan tidak hanya dipengaruhi sentimen global menjelang keputusan bank sentral utama, tetapi juga ketidakpastian politik dan isu perombakan kabinet. Kondisi tersebut membuat investor meningkatkan aksi defensif dan membawa IHSG turun hingga level 6.371,40.

Situasi berubah pada sore hari setelah kabar Suahasil Nazara ditunjuk menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Pasar kemudian merespons dengan aksi beli yang membuat indeks bangkit dari posisi terendah hariannya.

Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai respons tersebut menunjukkan pasar lebih nyaman setelah ketidakpastian mengenai kepemimpinan Kementerian Keuangan terjawab. Latar belakang Suahasil yang sudah lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan juga dipandang memberikan unsur kesinambungan dalam pengelolaan fiskal.

Namun, rebound tersebut belum otomatis menjadi sinyal perubahan tren. Investor masih akan melihat langkah konkret Suahasil dalam mengelola defisit APBN, utang, disiplin fiskal, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.

Pasar Menunggu Arah Kebijakan Suahasil

Dari perspektif industri sekuritas, penunjukan Suahasil dinilai sebagai langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal.

Managing Director Head of Equity Capital Market Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, melihat pengalaman Suahasil sebagai teknokrat fiskal internal menjadi modal untuk meredam kekhawatiran pasar. Suahasil sebelumnya pernah menduduki posisi Kepala Badan Kebijakan Fiskal hingga Wakil Menteri Keuangan.

Pergantian tersebut berlangsung ketika pemerintah menghadapi perdebatan mengenai target penerimaan, pelaksanaan anggaran, serta koordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah rencana setoran Rp120 triliun dari Danantara ke kas APBN. Perbedaan pandangan mengenai transfer dana tersebut disebut turut meningkatkan friksi koordinasi kebijakan fiskal.

RAPBN 2027 Jadi Ujian Awal

Ekonom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Ia mengingatkan agar Menkeu baru tidak sekadar mempertahankan status quo, tetapi juga berani mengevaluasi kebijakan yang selama ini berjalan.

Menurutnya, kualitas APBN tidak cukup dinilai hanya dari menjaga defisit di bawah 3% terhadap PDB. Pemerintah juga perlu memperhatikan kualitas penerimaan negara, tata kelola, konsistensi kebijakan, serta potensi kewajiban fiskal.

Relasi antara APBN dan Danantara juga perlu memiliki batas yang transparan, khususnya terkait dividen BUMN, investasi komersial, penugasan pemerintah, dan risiko fiskal.

Ujian berikutnya akan datang melalui penyusunan RAPBN 2027 dengan asumsi pendapatan Rp3.426 triliun dan belanja Rp4.097 triliun. Dengan ruang fiskal yang terbatas, Suahasil harus menentukan prioritas di tengah kebutuhan pendanaan untuk MBG, subsidi energi, ketahanan pangan, dan infrastruktur.

Bagi pasar, keberhasilan Menkeu baru bukan hanya diukur dari stabilitas indeks, tetapi juga kemampuan menghadirkan kebijakan fiskal yang kredibel, terukur, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi.