Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, di zona merah. Indeks turun 106,96 poin atau 1,99% ke level 5.266,1, seiring tekanan yang melanda sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di tengah pelemahan pasar, sejumlah saham justru mencatat kenaikan harga signifikan. Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) menjadi salah satu pencetak keuntungan terbesar dengan lonjakan 33,33%. Sementara itu, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menguat 6% ke harga Rp26.500 dan menjadi saham dengan kenaikan tertinggi di antara sejumlah saham LQ45 yang menguat.
Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah
Tekanan pasar terlihat dari jumlah saham yang mengalami penurunan. Sebanyak 647 saham melemah, sedangkan 101 saham menguat dan 215 saham tidak mengalami perubahan harga. Total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp17,16 triliun.
Hampir seluruh sektor saham berakhir melemah. Sektor energi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,33%, disusul barang baku yang terkoreksi 3,32% dan teknologi yang turun 3,16%.
Pelemahan juga terjadi pada sektor infrastruktur sebesar 2,95%, transportasi 2,83%, properti 1,55%, serta kesehatan 1,5%. Sektor barang konsumen non-primer turun 1,36%, keuangan melemah 1,11%, dan barang konsumen primer terkoreksi 0,49%. Sebaliknya, sektor perindustrian menjadi satu-satunya sektor yang menguat, yakni 1,43%.
Sentimen Global dan Domestik Tekan IHSG
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan IHSG dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Bursa regional Asia bergerak bervariasi, sementara penurunan harga minyak di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat dan Iran memberikan sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran inflasi.
Pelaku pasar juga mencermati prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 82% untuk kenaikan suku bunga pada Desember. Data produk domestik bruto (PDB) AS dan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) turut menjadi perhatian untuk membaca arah ekonomi dan kebijakan Federal Reserve.
Dari dalam negeri, harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$110 per barel dinilai berisiko menambah beban subsidi dan kompensasi energi pemerintah. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran.
Meski demikian, keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan pasar modal Indonesia ke dalam daftar pemantauan menjadi sentimen positif yang membantu meredam tekanan indeks.
DADA Memimpin Daftar Saham Paling Cuan
Di tengah anjloknya IHSG, lima saham mencatat kenaikan harga terbesar. DADA melesat 33,33% menjadi Rp24, disusul PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) yang naik 23,46% ke Rp100.
PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA) menguat 22,88% menjadi Rp1.880. Berikutnya, PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) naik 20,63% ke Rp228 dan PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) meningkat 19,32% menjadi Rp105.
Sebaliknya, tekanan terdalam dialami PT Sumber Mas Konstruksi Tbk (SMKM) dan PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH), yang masing-masing turun 9,88% ke Rp73. PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) merosot 9,68% menjadi Rp336, PT Logisticsplus International Tbk (LOPI) turun 9,62% ke Rp47, dan PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA) melemah 9,45% menjadi Rp230.








