Saham

IHSG Dibuka Turun 0,32% ke 5.249, Investor Cermati Keputusan The Fed dan Lesunya Lelang SBN

IHSG dibuka turun 0,32% ke 5.249 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Investor mencermati keputusan The Fed, lelang SBN, dan laba industri China.

IHSG Dibuka Turun 0,32% ke 5.249, Investor Cermati Keputusan The Fed dan Lesunya Lelang SBN
Foto: JIBI/Bisnis/Robby Fathan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (28/10/2026) di zona merah. Indeks dibuka pada level 5.249,07, terkoreksi 17,06 poin atau 0,32% di tengah perhatian investor terhadap sejumlah sentimen ekonomi domestik dan global.

Pada awal sesi, IHSG bergerak dalam rentang 5.242,20 hingga 5.255,67. Aktivitas transaksi tercatat mencapai 8,48 juta lot dengan nilai Rp269,86 miliar. Pelaku pasar cenderung berhati-hati menjelang pengumuman kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, sementara tekanan di pasar obligasi pemerintah turut menjadi perhatian.

Keputusan The Fed Jadi Sorotan Investor

Pasar global menantikan keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu waktu Amerika Serikat atau Kamis (29/10/2026) pukul 01.00 WIB. Pengumuman tersebut akan dilanjutkan dengan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.

Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00%, setelah kenaikan 25 basis poin pada September. Meski peluang perubahan suku bunga dinilai terbatas, investor akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi, kondisi tenaga kerja, dan arah kebijakan berikutnya.

Apabila The Fed memberikan sinyal hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan menekan aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang. Sebaliknya, indikasi meredanya tekanan inflasi dapat membuka ruang bagi sentimen yang lebih positif.

Bagi Indonesia, keputusan tersebut dapat memengaruhi pergerakan rupiah, aliran modal asing, serta daya tarik aset keuangan domestik.

Permintaan Lelang SBN Merosot, Yield Meningkat

Tekanan lain datang dari pasar surat utang pemerintah. Dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (27/10/2026), penawaran investor hanya mencapai Rp31,09 triliun. Nilai itu turun 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.

Di tengah penurunan permintaan, yield rata-rata tertimbang SUN dengan tenor sekitar 10 tahun yang dimenangkan pemerintah naik menjadi 7,54%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2022.

Yield itu meningkat 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 basis poin dibandingkan awal 2026. Pemerintah menyerap dana Rp20,65 triliun, lebih rendah daripada target indikatif Rp30 triliun.

Minat investor yang melemah di tengah kenaikan yield mengindikasikan tekanan pembiayaan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya penerbitan utang baru sekaligus menambah kekhawatiran terhadap arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Laba Industri China Masih Tumbuh

Dari Asia, perkembangan sektor industri China turut menjadi perhatian pelaku pasar. Laba industri negara tersebut meningkat 15,5% secara tahunan menjadi 6,03 triliun yuan atau CNY pada Januari–September 2026.

Meski masih tumbuh, angka itu sedikit melambat dibandingkan kenaikan 15,7% pada periode Januari–Agustus. Pertumbuhan ditopang manufaktur berteknologi tinggi, industri kecerdasan buatan (AI), serta peralatan elektronik. Namun, permintaan domestik yang lemah masih membebani sejumlah sektor.

Laba perusahaan milik negara naik 13,1% menjadi CNY 1,94 triliun. Perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat pertumbuhan 20,8% menjadi CNY 4,67 triliun, sedangkan laba perusahaan swasta meningkat 8,7% menjadi CNY 1,51 triliun.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang dicermati investor dalam menilai prospek ekonomi regional dan pengaruhnya terhadap pasar saham Indonesia.