— Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 resmi dimulai di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Selasa (6/10/2026). Memasuki tahun keempat, forum tersebut kembali mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, lembaga keuangan, organisasi internasional, serta akademisi untuk membahas arah pembangunan berkelanjutan.

Mengusung tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World”, ISF 2026 menyoroti tantangan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Forum ini juga membahas percepatan transisi menuju ekonomi rendah karbon, penguatan ketahanan, serta pemanfaatan investasi dan teknologi untuk menciptakan pertumbuhan jangka panjang.

Keberlanjutan Jadi Bagian Strategi Ekonomi

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, dalam pidato pembukaan menegaskan bahwa isu keberlanjutan tidak lagi sebatas persoalan lingkungan. Menurutnya, agenda tersebut semakin berkaitan dengan industri, investasi, keamanan, hingga daya saing suatu negara.

Rosan menilai ISF telah berkembang dari sekadar forum konferensi menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dengan peluang investasi. Karena itu, berbagai pembahasan yang muncul di dalam forum diharapkan dapat menghasilkan proyek dan kemitraan konkret.

Bagi Indonesia, agenda keberlanjutan dinilai perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat daya saing industri sekaligus menghadapi perubahan ekonomi global.

KADIN Dorong Lima Prioritas Transisi

Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie mengatakan dunia usaha memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan. KADIN telah menetapkan lima prioritas dalam menghadapi tantangan energi dan perubahan iklim.

Kelima fokus tersebut meliputi percepatan transisi energi untuk meningkatkan ketahanan energi, pengembangan pasar karbon yang memiliki integritas tinggi, dukungan bagi perusahaan Indonesia menuju net zero, pengembangan ekonomi sirkular dan waste-to-energy, serta pengelolaan kehutanan secara berkelanjutan.

Anindya menilai langkah tersebut diperlukan agar agenda keberlanjutan tidak berhenti pada komitmen, tetapi dapat diterapkan dalam kegiatan ekonomi dan industri.

ISF 2026 Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor

Ketua Panitia ISF 2026, Rachmat Kaimuddin, mengatakan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang penuh volatilitas membuat agenda keberlanjutan harus tetap dijaga. Menurutnya, isu tersebut perlu berjalan beriringan dengan strategi pertumbuhan ekonomi.

ISF 2026 menjadi ruang untuk mempelajari pengalaman berbagai negara dan sektor industri dalam mengubah agenda keberlanjutan menjadi peluang pertumbuhan. Investasi, inovasi, teknologi, dan kolaborasi menjadi sejumlah instrumen yang dibahas untuk mencapai tujuan tersebut.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Keberlanjutan KADIN Indonesia, Shinta W. Kamdani, juga menilai sektor swasta memiliki posisi strategis dalam menjembatani kebutuhan ekonomi dengan agenda keberlanjutan.

Menurut Shinta, transisi menuju ekonomi berkelanjutan bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan target lingkungan. Dunia usaha juga perlu membangun industri yang lebih kompetitif dan mampu menghadapi perubahan global.

Lebih dari 7.000 Peserta Ikuti ISF 2026

Keterlibatan berbagai pihak dalam ISF 2026 tercermin dari jumlah pendaftar yang telah melampaui 7.000 orang. Peserta berasal dari berbagai negara, termasuk Singapura, Inggris, Malaysia, India, dan Jepang.

Sebelum forum utama berlangsung, sebanyak 27 side events telah digelar sejak Juli hingga Oktober 2026. Rangkaian tersebut melibatkan berbagai sektor dan menjadi bagian dari proses membangun pembahasan mengenai pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

ISF 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertukaran gagasan, tetapi juga menghasilkan peluang investasi, inovasi, kemitraan, serta rekomendasi kebijakan. Dengan mempertemukan pemerintah, dunia usaha, investor, teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan, forum ini diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tangguh, inklusif, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai dalam jangka panjang.