TOPIK.ID — Pasar saham Indonesia mulai kembali menarik perhatian investor asing setelah mengalami koreksi tajam sepanjang 2026. Coeli Asset Management, perusahaan pengelola investasi asal Swedia, untuk pertama kalinya mengalokasikan dana ke pasar domestik dengan memilih saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Keputusan tersebut muncul ketika IHSG mengalami tekanan dan turun sekitar 30% sepanjang tahun berjalan. Kondisi itu membuat valuasi sejumlah saham berada jauh di bawah rata-rata historis, sehingga pasar Indonesia mulai dilihat sebagai ruang untuk mencari peluang oleh investor yang berorientasi pada valuasi.
Investor Swedia Mulai Melirik Valuasi Saham Indonesia
Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali, mengatakan masuknya Coeli menjadi perhatian karena dilakukan ketika pasar Indonesia sedang menghadapi sentimen yang kurang menarik bagi investor global.
Menurut Jason, Coeli sebenarnya telah memantau pasar Indonesia selama beberapa tahun. Namun, valuasi saham domestik sebelumnya dinilai belum cukup menarik untuk mendorong peningkatan alokasi investasi.
Situasi berubah setelah koreksi pasar membuat sejumlah emiten diperdagangkan dengan valuasi yang lebih rendah dibandingkan rerata historisnya. Pengelola dana yang berbasis di Stockholm tersebut kemudian meningkatkan eksposur terhadap Indonesia hingga mendekati 6% dari portofolionya.
Dua saham yang dipilih juga memiliki karakter bisnis berbeda. GOTO mencerminkan peluang pemulihan kinerja fundamental, sedangkan BBCA dipandang memiliki basis fundamental yang kuat.
Fundamental GOTO Masih Jadi Perhatian Pasar
Kehadiran Coeli di GOTO tidak serta-merta menjadi alasan bagi investor untuk mengabaikan perkembangan kinerja perusahaan. Jason menilai kondisi fundamental tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati, terutama pada bisnis finansial dan layanan digital perseroan.
GoPay menjadi salah satu bagian bisnis yang menunjukkan pertumbuhan. Loan book tercatat meningkat 58% secara tahunan. Selain itu, GOTO berhasil mencatatkan laba bersih selama dua kuartal berturut-turut pada paruh pertama 2026.
Namun, perseroan masih menghadapi tantangan dari bisnis layanan transportasi daring. Kebijakan komisi sebesar 8% yang mulai berlaku sejak Juli diperkirakan memberikan dampak terhadap kinerja segmen tersebut.
Dampak penuh kebijakan itu baru dapat terlihat setelah laporan keuangan kuartal III diterbitkan. Karena itu, laporan tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat apakah perbaikan fundamental GOTO dapat berlanjut.
Aksi Korporasi GOTO Jadi Faktor Yang Dicermati
Selain kinerja operasional, sejumlah agenda korporasi GOTO juga menjadi perhatian investor. Perseroan tengah mengevaluasi kemungkinan melakukan reverse stock split dan berencana menghanguskan sekitar 32 miliar saham treasuri.
GOTO juga memiliki komitmen melakukan buyback saham dengan nilai mencapai Rp3,5 triliun. Langkah tersebut menjadi bagian dari faktor yang dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap pergerakan saham perseroan.
Perubahan mekanisme harga juga membuat ruang pergerakan GOTO menjadi lebih terbuka. Setelah batas harga Rp50 dihapus, harga saham dapat bergerak lebih leluasa mengikuti keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar.
Masuknya Coeli Belum Menjadi Sinyal Pembalikan Tren
Meskipun keputusan Coeli menambah eksposur di Indonesia memberikan indikasi bahwa valuasi saham domestik mulai kembali diperhatikan, Jason mengingatkan agar langkah tersebut tidak langsung dianggap sebagai tanda pembalikan tren pasar.
Menurut dia, satu investor asing belum cukup untuk memastikan perubahan arah arus investasi secara keseluruhan. Pasar saham Indonesia masih menghadapi sejumlah persoalan struktural yang dapat memengaruhi minat investor global.
Salah satu risiko yang tetap perlu diperhatikan berkaitan dengan klasifikasi MSCI. Karena itu, investor masih perlu melihat perkembangan fundamental emiten, kondisi makroekonomi, serta arus modal asing sebelum mengambil kesimpulan mengenai prospek pasar Indonesia.
Bagi GOTO, laporan keuangan kuartal III menjadi salah satu momentum yang ditunggu untuk mengukur perkembangan kinerja setelah berbagai perubahan kebijakan dan aksi korporasi. Sementara bagi pasar secara keseluruhan, langkah Coeli menunjukkan bahwa koreksi valuasi mulai membuka kembali ruang perhatian investor asing terhadap sejumlah saham Indonesia.
