Topik.id — Personel TNI bersama aparat terkait dan masyarakat masih berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Keritang, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Penanganan dilakukan dengan menyisir kawasan terdampak, memadamkan sumber api, serta mendinginkan lahan yang masih mengeluarkan asap.
Upaya tersebut berlangsung di kawasan Parit Bina Mulya, Dusun Terpadu, Desa Kuala Lemang, Minggu (20/9/2026). Tim gabungan bergerak sejak pagi untuk memastikan bara yang tersisa di dalam lahan gambut tidak kembali terbakar dan memunculkan titik api baru.
Penyisiran Dilakukan Sejak Pagi
Kodam XIX/Tuanku Tambusai melalui Kodim 0314/Indragiri Hilir mengerahkan personel untuk menangani lokasi yang masih menunjukkan tanda-tanda kebakaran. Petugas tidak hanya mencari sumber api yang terlihat di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan pada bagian lahan yang sebelumnya terbakar.
Langkah tersebut penting karena lahan gambut memiliki karakteristik yang memungkinkan panas dan bara tersimpan di bawah permukaan. Kondisi ini membuat kebakaran dapat kembali muncul meskipun api yang terlihat sudah berhasil dipadamkan.
Tim gabungan kemudian melakukan penyisiran di sejumlah bagian kawasan terdampak. Area yang masih mengeluarkan asap menjadi salah satu titik yang mendapatkan perhatian dalam proses pendinginan.
Bara di Bawah Gambut Jadi Perhatian
Seorang prajurit yang terlibat dalam operasi mengatakan penanganan dilakukan secara intensif bersama masyarakat. Petugas berupaya memastikan tidak ada bara yang masih aktif dan berpotensi berkembang menjadi api.
Pemantauan dilakukan secara berulang setelah proses pemadaman. Cara tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat bagian lahan yang kembali mengeluarkan asap atau menunjukkan tanda panas.
Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih panjang. Air dan metode pendinginan harus diarahkan ke lokasi yang tepat agar panas di dalam tanah dapat dikurangi dan potensi munculnya api kembali bisa ditekan.
Cuaca dan Kondisi Lahan Jadi Kendala
Petugas di lapangan menghadapi sejumlah tantangan selama menangani Karhutla di Keritang. Kondisi cuaca yang panas menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat proses pengeringan lahan.
Selain itu, arah angin dapat berubah dalam waktu relatif cepat. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi penyebaran asap maupun arah api apabila masih terdapat sumber pembakaran yang aktif.
Ketersediaan air juga menjadi persoalan tersendiri karena lokasi berada di kawasan dengan kondisi pasang surut. Keterbatasan sumber air membuat tim harus mengoptimalkan peralatan dan sumber daya yang tersedia di lapangan.
Meski menghadapi berbagai kendala, proses pemadaman dan pendinginan tetap dilanjutkan dengan dukungan masyarakat setempat.
Warga Ikut Membantu Pengendalian Api
Masyarakat menjadi bagian dari upaya penanganan Karhutla di lokasi tersebut. Keterlibatan warga membantu personel gabungan dalam melakukan penyisiran dan memantau kondisi lahan yang terdampak kebakaran.
Kerja sama antara petugas dan masyarakat juga diperlukan untuk mendeteksi lebih cepat apabila muncul kembali titik asap atau api. Pemantauan secara bersama dapat mempercepat respons terhadap kondisi yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Sinergi tersebut dilakukan sembari petugas terus mengoptimalkan peralatan pemadaman yang tersedia.
Pemantauan Dilanjutkan Sampai Kondisi Aman
Kodim 0314/Indragiri Hilir bersama unsur terkait berencana melanjutkan pemantauan di kawasan terdampak sampai kondisi dinyatakan aman. Pendinginan tetap dilakukan pada bagian lahan yang dinilai masih menyimpan potensi bara.
Penanganan tidak berhenti ketika api di permukaan terlihat padam. Petugas perlu memastikan tidak ada sumber panas yang tertinggal di dalam lahan gambut karena dapat memicu kebakaran kembali.
Kolaborasi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengendalian Karhutla di Keritang. Selain menangani titik yang sudah terbakar, pemantauan juga dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru di kawasan sekitar.
Dengan penyisiran dan pendinginan secara berkelanjutan, tim gabungan berupaya menekan risiko kebakaran meluas sekaligus memastikan kawasan yang terdampak dapat segera berada dalam kondisi terkendali.
