— Kekerasan bersenjata kembali menjadi perhatian setelah warga sipil menjadi korban di sejumlah wilayah Papua. Anggota Komisi XIII DPR RI Fauqi Hapidekso meminta pemerintah memperkuat perlindungan masyarakat menyusul tewasnya sopir travel asal Toraja, Aris Sanda, di kawasan Papua Pegunungan.

Selain kasus Aris, Fauqi juga menyoroti laporan penyanderaan terhadap tujuh perempuan di Distrik Jila, Kabupaten Mimika. Sebelumnya, sembilan perempuan dilaporkan diculik sejak 17 Agustus 2026. Dari perkembangan kasus tersebut, satu korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sedangkan satu lainnya ditemukan meninggal dunia.

Sopir Travel Aris Sanda Tewas di Danau Habema

Kasus Aris Sanda terjadi di jalur Wamena-Mbua, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Aris merupakan sopir yang melayani pengangkutan penumpang dan logistik menuju wilayah pedalaman.

Menurut keterangan Koops TNI Habema, rombongan kendaraan yang ditumpangi Aris dihentikan kelompok bersenjata pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 06.00 WIT. Setelah pemeriksaan terhadap pengemudi dan penumpang, para penumpang diperintahkan kembali ke arah Wamena, sementara Aris dibawa menuju kawasan Danau Habema.

Tim Koops TNI Habema kemudian melakukan pencarian dan penyisiran. Dalam proses tersebut, aparat menemukan kendaraan Aris dalam kondisi terbakar bersama jenazah korban. TNI menyebut kelompok bersenjata OPM Kodap III Ndugama sebagai pihak yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.

Jenazah Aris selanjutnya dievakuasi dari Papua Pegunungan. Pada Jumat (18/9/2026), jenazah diberangkatkan dari Bandara Sentani menuju Makassar sebelum proses pemulangan ke daerah asalnya.

DPR Soroti Keselamatan Warga Sipil

Fauqi Hapidekso menilai rangkaian kejadian tersebut menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap keselamatan masyarakat yang tinggal maupun bekerja di wilayah rawan konflik.

Ia meminta pemerintah dan aparat mengutamakan perlindungan terhadap warga yang tidak terlibat dalam konflik. Menurut Fauqi, masyarakat tetap memiliki hak untuk bekerja, bepergian, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman.

Pernyataan tersebut disampaikan Fauqi di tengah sorotan terhadap meningkatnya kembali kasus kekerasan bersenjata yang berdampak langsung kepada masyarakat sipil.

Tujuh Perempuan Masih Dilaporkan Disandera

Selain kasus penembakan Aris, Fauqi meminta perhatian terhadap tujuh perempuan yang masih dilaporkan berada dalam penyanderaan kelompok bersenjata di Distrik Jila, Kabupaten Mimika.

Kasus tersebut bermula ketika sembilan perempuan dilaporkan diculik pada 17 Agustus 2026. Dalam perkembangan selanjutnya, satu korban berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan satu korban lainnya ditemukan meninggal dunia. Dengan demikian, berdasarkan laporan yang disoroti Fauqi, masih terdapat tujuh perempuan yang nasibnya menjadi perhatian.

Kondisi para korban dan proses penyelamatan menjadi salah satu hal yang menurut Fauqi perlu segera mendapatkan penanganan pemerintah.

Penanganan Diminta Tetap Terukur

Fauqi meminta upaya penyelamatan dilakukan secara cepat, tetapi tetap mempertimbangkan kondisi di lapangan. Ia menekankan pentingnya perhitungan dalam setiap langkah agar operasi penyelamatan tidak menimbulkan korban tambahan.

Selain keselamatan korban, informasi kepada keluarga juga menjadi perhatian. Menurutnya, pihak keluarga perlu memperoleh informasi mengenai perkembangan kondisi anggota keluarganya sehingga tidak terus berada dalam ketidakpastian.

Di sisi lain, aparat masih melakukan penanganan terhadap kasus Aris Sanda. Koops TNI Habema menyatakan pendalaman kronologi dan pencarian pihak yang diduga terlibat dilakukan bersama unsur terkait.

Perlindungan Warga Jadi Sorotan

Fauqi menempatkan persoalan tersebut sebagai isu yang tidak hanya berkaitan dengan keamanan, tetapi juga menyangkut perlindungan hak warga sipil. Ia meminta pemerintah memastikan masyarakat di wilayah rawan tetap memperoleh perlindungan tanpa membedakan lokasi tempat tinggal maupun pekerjaan mereka.

Rangkaian kejadian di Papua tersebut kini menjadi perhatian karena melibatkan warga yang sedang menjalankan aktivitas sehari-hari. Kasus Aris Sanda masih dalam penanganan aparat, sementara laporan mengenai tujuh perempuan yang disandera juga menjadi bagian dari persoalan yang didorong untuk segera ditangani pemerintah.