— PT Pertamina Patra Niaga sedang mengembangkan proyek kilang bioavtur (biorefinery) di Cilacap, Jawa Tengah, yang akan mengolah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) menjadi sustainable aviation fuel (SAF).

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, menjelaskan bahwa progres proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 1,1 miliar ini telah memasuki tahap Final Investment Decision (FID) dan proses penentuan mitra pada tahun ini. Tahap engineering, procurement, and construction (EPC) ditargetkan dimulai pada tahun 2027, dengan harapan kilang tersebut dapat beroperasi (on-stream) pada tahun 2029.

Kilang bioavtur ini akan dibangun di atas lahan seluas 17,5 hektare, dengan kapasitas produksi sekitar 860 kiloliter (kl) SAF per hari. Kebutuhan minyak jelantah untuk biorefinery ini diperkirakan mencapai 350.000 ton per tahun.

Hermawan menambahkan, proyek utama kilang ini telah dimulai sejak tahun 2025, meliputi desain rekayasa awal (front end engineering design), penyusunan rencana, hingga proses tender. Pertamina juga telah melaksanakan uji coba perdana (pilot test) penggunaan minyak jelantah untuk SAF dan memperoleh sertifikasi ISCC CORSIA pada 2024. Produksi perdana SAF berbasis UCO dilakukan pada Juli-Agustus 2025, diikuti dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek biorefinery Cilacap Fase 2 pada Februari 2026.

Setelah beroperasi, bioavtur yang dihasilkan dari kilang ini rencananya akan disuplai untuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Hermawan menegaskan bahwa proyek ini merupakan upaya Pertamina untuk memperkuat kemandirian SAF nasional dan mendorong energi hijau melalui pemanfaatan minyak jelantah menjadi produk bernilai tinggi. “Jadi, bahan yang biasanya dibuang dan menjadi limbah, nanti kita olah produk itu menjadi bahan yang bermanfaat dan bernilai tinggi,” ujarnya.

Pertamina memperkirakan, dengan beroperasinya kilang bioavtur ini, akan tercipta potensi penyerapan sekitar 5.900 tenaga kerja. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat mengurangi emisi tahunan produk SAF sekitar 600.000 tCO2e, serta mencapai target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30%.