— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyatakan bahwa posisi fundamental ekonomi negara ditopang oleh kekuatan sumber daya alam yang melimpah. Klaim tersebut didasarkan pada kepemilikan cadangan komoditas strategis berskala masif, mencakup nikel, tembaga, hingga mineral kritis.

Kepala Negara menjelaskan bahwa komoditas nikel dan tembaga milik tanah air menduduki peringkat teratas secara global. Kedua jenis mineral tersebut memegang peranan krusial sebagai komponen utama dalam rantai pasok teknologi masa depan.

“Tadi yang saya katakan ya, dengan vast resources kita, banyak negara perlu Indonesia. Cadangan nikel kita salah satu terbesar di dunia. Cadangan copper (tembaga) kita salah satu terbesar di dunia,” ungkap Prabowo saat memberikan keterangan dalam agenda dialog bersama para jurnalis senior serta pakar.

Pertemuan tersebut berlangsung di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Acara itu terlaksana pada Minggu (6/9/2026) dan kemudian ditayangkan oleh media massa pada Rabu (16/9/2026).

Di samping nikel dan tembaga, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada potensi logam tanah jarang atau rare earth elements. Berdasarkan data yang dipaparkan, cadangan komoditas tersebut di dalam negeri menempati urutan kedua terbesar di seluruh dunia, tepat di bawah Tiongkok.

“Belum rare earth (logam tanah jarang/LTJ). Kita sangat banyak. Cadangan rare earth terbesar adalah Tiongkok, kedua terbesar Indonesia!,” tambahnya.

Lebih lanjut, deretan kekayaan bumi Nusantara tidak hanya berhenti pada mineral logam. Pemerintah juga mencatat adanya temuan cadangan energi dan mineral berharga lainnya dalam skala yang masif.

“Belum kita menemukan ladang-ladang gas yang sangat besar. Kita juga menemukan ladang-ladang emas dan mineral yang juga sangat besar,” pungkasnya.