Topik.id — Nilai tukar rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penghujung perdagangan hari ini. Walau demikian, mata uang Garuda tercatat masih membukukan pelemahan sepanjang pekan berjalan.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi sebesar 0,03% dan menutup perdagangan Jumat (18/9/2026) pada level Rp17.730/US$.
Kenaikan tersebut sekaligus membalikkan keadaan dari sesi sebelumnya pada Kamis (17/9/2026). Kala itu, rupiah mengalami depresiasi 0,34% dan berakhir di posisi Rp17.735/US$.
Sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan rupiah terpantau berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.755/US$. Mata uang Garuda sempat menyentuh level penguatan di Rp17.700/US$ sebelum akhirnya kembali melemah tipis menjelang penutupan pasar.
Kendati berhasil mendarat di zona hijau pada hari ini, secara akumulatif rupiah masih mengalami koreksi sebesar 0,82% dalam sepekan terakhir.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang membandingkan kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama global terpantau menguat tipis 0,08% ke posisi 100,326 pada pukul 15.00 WIB.
Dinamika pergerakan rupiah pada akhir pekan ini turut dipengaruhi oleh sentimen dari kancah global maupun domestik.
Dari pasar internasional, indeks dolar AS kembali menguat tipis setelah sempat mengalami koreksi pada sesi pagi. DXY masih kokoh di atas level 100 dan mencatatkan kenaikan sekitar 1,4% dalam kurun waktu satu pekan.
Sebelumnya, dolar sempat melemah seiring penurunan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS serta mulai meredanya harga minyak. Pasokan energi yang sedikit melonggar berkat tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman turut meredam kecemasan pasar di tengah konflik antara AS dan Iran.
“Saya pikir pergerakan dolar saat ini berjalan searah dengan suku bunga AS,” ujar Kepala Strategi Pasar Bannockburn Forex Marc Chandler dikutip dari Reuters.
Arah pergerakan dolar AS sendiri masih dibayangi oleh perbedaan proyeksi terkait kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Para pejabat The Fed mengindikasikan potensi satu kali tambahan kenaikan suku bunga pada 2026 serta tidak ada perubahan pada 2027.
Di sisi lain, para pelaku pasar justru memperhitungkan proyeksi yang lebih agresif, yakni lebih dari satu kali kenaikan lanjutan hingga penghujung tahun ini serta sekitar tiga kali kenaikan tambahan sampai akhir 2027.
Sementara itu dari dalam negeri, pergerakan rupiah juga beriringan dengan rilis laporan terbaru mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Suahasil Nazara memaparkan bahwa posisi defisit APBN hingga periode akhir Agustus 2026 tetap terjaga pada angka Rp240,1 triliun, atau setara dengan 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit tersebut terjadi lantaran realisasi pendapatan negara masih berada di bawah angka belanja. Total pendapatan negara tercatat mencapai Rp2055,6 triliun atau sekitar 65,2% dari target APBN 2026, sementara sektor belanja negara terserap hingga Rp2295,7 triliun.
Kendati mengalami defisit, struktur keseimbangan primer masih mampu mencatatkan surplus sebesar Rp154 triliun.
“APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif Rp154 triliun dan defisit dalam batasan terkendali. Dan ini artinya memang perjalanan APBN-nya relatively on track,” ujar Suahasil dalam agenda konferensi pers APBN KiTa, Jumat (18/9/2026).
