Topik.id — Prospek ekonomi Asia Tenggara dalam satu dekade ke depan diperkirakan tetap positif. Enam negara dengan perekonomian terbesar di kawasan, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan mencatat pertumbuhan rata-rata 4,8% per tahun sepanjang 2026 hingga 2035.
Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan yang diterbitkan Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners pada 16 September. Pertumbuhan kawasan akan ditopang oleh kombinasi arus investasi asing, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, serta peningkatan produktivitas seiring semakin luasnya penggunaan teknologi.
Investasi Dan Industrialisasi Jadi Mesin Pertumbuhan
Perubahan rantai pasokan global menjadi salah satu faktor yang membuka peluang baru bagi perekonomian Asia Tenggara. Penyesuaian strategi perusahaan global dalam menentukan lokasi produksi turut mendorong peningkatan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) ke kawasan.
Arus modal tersebut berpotensi memperkuat aktivitas industri sekaligus menciptakan kapasitas produksi baru. Pembangunan infrastruktur juga menjadi elemen penting karena dapat meningkatkan konektivitas dan mendukung efisiensi kegiatan ekonomi antarwilayah.
Selain investasi, penerapan teknologi diperkirakan memberikan kontribusi terhadap produktivitas. Digitalisasi dan adopsi teknologi yang lebih luas dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi di tengah perubahan struktur perdagangan global.
Vietnam Diproyeksikan Tumbuh Paling Cepat
Meski pertumbuhan rata-rata kawasan diperkirakan mencapai 4,8%, kinerja masing-masing negara tidak akan seragam. Vietnam diproyeksikan tetap berada di posisi terdepan dalam pertumbuhan ekonomi ASEAN, sedangkan Thailand diperkirakan menghadapi laju pertumbuhan yang relatif lebih lambat dibandingkan negara lainnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan masing-masing negara dalam memanfaatkan perubahan ekonomi global akan menjadi faktor penting. Struktur industri, kualitas institusi, kesiapan teknologi, serta kemampuan menarik investasi dapat memengaruhi kecepatan ekspansi ekonomi.
Konsumsi domestik yang relatif stabil juga menjadi salah satu penopang prospek kawasan. Sejumlah negara ASEAN memiliki struktur demografi yang mendukung pertumbuhan permintaan dalam jangka panjang.
Ketahanan Ekonomi Jadi Faktor Pembeda
Selain mengejar pertumbuhan, ketahanan menghadapi guncangan eksternal menjadi perhatian dalam proyeksi tersebut. Kekuatan kelembagaan, keamanan energi, serta kesiapan teknologi dinilai akan menentukan seberapa besar dampak perubahan kondisi global terhadap masing-masing ekonomi.
Dalam skenario yang lebih buruk, Indonesia, Filipina, dan Thailand berpotensi menghadapi tekanan lebih besar. Sebaliknya, Malaysia, Singapura, dan Vietnam diperkirakan dapat mempertahankan kinerja yang lebih baik dalam kondisi yang mendukung.
Singapura Memiliki Posisi Strategis
Singapura memiliki peran penting dalam ekosistem ekonomi regional karena ditopang pasar keuangan yang maju, ketersediaan sumber daya keuangan, serta posisinya sebagai pusat bisnis kawasan.
Status tersebut membuat Singapura menjadi salah satu simpul utama bagi investasi dan aktivitas perusahaan di Asia Tenggara. Peningkatan FDI ke kawasan juga berpotensi memperkuat peran pusat keuangan tersebut dalam mendukung ekspansi bisnis lintas negara.
Dengan kombinasi investasi, industrialisasi, konsumsi domestik, dan teknologi, Asia Tenggara memiliki sejumlah sumber pertumbuhan hingga 2035. Namun, realisasi proyeksi tersebut tetap akan bergantung pada kemampuan setiap negara menghadapi risiko eksternal dan memperkuat fondasi ekonominya.
