Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu penopang utama penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026. Kenaikan saham tersebut berlangsung di tengah aksi jual bersih investor asing pada BBRI sebesar Rp2,11 triliun.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG menguat 4,90 persen secara mingguan ke level 5.439,26 pada Jumat (23/10/2026), dibandingkan 5.185,10 pada pekan sebelumnya.
Saham BBRI naik 10,23 persen menjadi Rp2.910 per saham, memberikan kontribusi positif sekitar 39,76 poin terhadap IHSG. Namun, berdasarkan data pasar reguler, BBRI menempati posisi kedua dalam daftar saham dengan penjualan bersih asing terbesar setelah BBCA.
Investor asing jual BBRI Rp2,11 triliun dalam sepekan
Data pasar reguler yang dihimpun Bloomberg Technoz menunjukkan investor asing mencatat penjualan bersih BBRI sebesar Rp2,11 triliun pada 19–23 Oktober 2026, di bawah BBCA yang mencapai Rp2,89 triliun. Penjualan bersih asing juga terjadi pada TLKM, BMRI, dan BRIS.
| Saham | Net sell investor asing |
|---|---|
| BBCA | Rp2,89 triliun |
| BBRI | Rp2,11 triliun |
| TLKM | Rp572,76 miliar |
| BMRI | Rp501,34 miliar |
| BRIS | Rp317,16 miliar |
| AADI | Rp260,91 miliar |
| PTBA | Rp253,11 miliar |
| TINS | Rp190,08 miliar |
| ANTM | Rp159,79 miliar |
| BBNI | Rp158,68 miliar |
Data tersebut merujuk pada transaksi pasar reguler periode 19–23 Oktober 2026. Meski investor asing mencatatkan penjualan bersih, saham BBRI tetap naik secara mingguan. Pergerakan harga ditentukan permintaan dan penawaran dari seluruh pelaku pasar, termasuk investor domestik.
IHSG naik 4,9 persen meski asing net sell Rp6,67 triliun
Berdasarkan statistik mingguan BEI yang dikutip Katadata, investor asing mencatat penjualan bersih sebesar Rp6,67 triliun pada 19–23 Oktober 2026. Nilai transaksi jual mencapai Rp43,62 triliun, lebih tinggi dibandingkan transaksi beli sebesar Rp36,95 triliun.
Penjualan bersih tersebut meningkat dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp3,19 triliun. Penguatan IHSG sebesar 4,90 persen terjadi ketika investor asing masih mencatatkan penjualan bersih secara agregat.
Angka Rp6,67 triliun berasal dari statistik mingguan BEI, sedangkan Rp2,11 triliun pada BBRI merupakan data pasar reguler. Perbedaan cakupan perlu diperhatikan ketika membandingkan arus dana asing.
Saham BBRI dan BMRI jadi penggerak IHSG
Selain BBRI, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi kontributor besar penguatan indeks. BMRI naik 15,04 persen selama sepekan dan menyumbang sekitar 40,65 poin, sementara BBRI menyumbang 39,76 poin.
Kedua saham perbankan tersebut secara gabungan memberikan kontribusi sekitar 80,41 poin terhadap IHSG. TLKM, BREN, dan BBNI juga masuk kelompok saham penopang indeks.
BMRI dan BBRI sama-sama mencatat penjualan bersih asing meski harga sahamnya meningkat. Hal ini menggambarkan bahwa arus jual investor asing tidak otomatis membuat saham melemah selama masih terdapat permintaan dari pelaku pasar lainnya.
Tekanan jual asing masih berlanjut pada 26 Oktober
Setelah menguat pada pekan sebelumnya, IHSG melemah sekitar 1 persen ke level 5.384,98 pada sesi pertama perdagangan Senin (26/10/2026). Saham BBRI juga turun 1,37 persen menjadi Rp2.870.
Investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp1,14 triliun pada sesi pertama, termasuk pada BBRI sekitar Rp89,67 miliar. Angka tersebut merupakan data sesi pertama, bukan hasil akhir perdagangan harian, sehingga dapat berubah hingga penutupan.
Investor perlu mencermati arus dana asing dan kinerja BBRI
Penguatan BBRI di tengah penjualan bersih asing menunjukkan adanya perbedaan antara arah harga saham dan arus transaksi kelompok investor tertentu. Selama 19–23 Oktober 2026, BBRI menguat 10,23 persen dan menjadi penopang indeks, sementara investor asing menjual bersih saham tersebut sebesar Rp2,11 triliun.
Pelaku pasar perlu memperhatikan transaksi investor asing, laporan keuangan BRI, kondisi likuiditas, dan arah pergerakan saham perbankan besar lainnya. Kenaikan harga jangka pendek tidak selalu mencerminkan perubahan fundamental perusahaan, sementara penjualan bersih asing juga bukan penentu tunggal harga berikutnya.
Dengan demikian, kenaikan IHSG sebesar 4,90 persen pada 19–23 Oktober 2026 berlangsung ketika investor asing masih mencatat penjualan bersih, termasuk pada BBRI yang justru menjadi salah satu penggerak utama indeks.









