Berita

Sebaran Asap Karhutla Capai Jakarta, Empat Wilayah Masuk Kategori Udara Tidak Sehat pada Hari Ini

Asap karhutla terdeteksi di Jakarta. Empat wilayah mencatat kualitas udara tidak sehat dengan ISPU tertinggi 120 pada Minggu.

Sebaran Asap Karhutla Capai Jakarta, Empat Wilayah Masuk Kategori Udara Tidak Sehat pada Hari Ini
Foto: MI/Usman Iskandar

Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan mencapai wilayah DKI Jakarta pada akhir pekan ini. Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah pemantauan kualitas udara pada Minggu (18/10/2026) pagi menunjukkan empat wilayah ibu kota berada dalam kategori tidak sehat.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebelumnya menyampaikan bahwa keberadaan asap terpantau melalui pengamatan satelit Himawari pada Jumat (16/10/2026). Warga pun diminta meningkatkan kewaspadaan, membatasi paparan udara luar, serta mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara.

Empat Wilayah Jakarta Catat ISPU di Atas 100

Berdasarkan data stasiun pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup pada Minggu (18/10/2026) pukul 09.32 WIB, empat titik pemantauan di Jakarta menunjukkan kategori udara tidak sehat.

Kategori tersebut berlaku ketika nilai ISPU berada di atas 100. Penilaian kualitas udara didasarkan pada konsentrasi polutan yang terukur, termasuk partikel halus PM2.5 dan partikel debu PM10.

Berikut daftar wilayah yang mencatat kualitas udara tidak sehat pada Minggu pagi:

Wilayah PemantauanNilai ISPU
Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat120
Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur114
Kebon Jeruk, Jakarta Barat111
Kelapa Gading, Jakarta Utara110

Bundaran HI mencatat angka tertinggi di antara empat lokasi tersebut, yakni 120. Sementara itu, Lubang Buaya berada di urutan berikutnya dengan nilai 114, disusul Kebon Jeruk sebesar 111 dan Kelapa Gading sebesar 110.

Data tersebut menggambarkan kondisi pada waktu pemantauan dan dapat berubah mengikuti perkembangan konsentrasi polutan serta kondisi atmosfer.

Pemprov DKI Imbau Warga Kurangi Paparan Asap

Pemprov DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk melakukan perlindungan mandiri selama potensi penurunan kualitas udara berlangsung. Imbauan tersebut terutama ditujukan untuk mengurangi paparan asap dan partikel pencemar yang dapat terhirup.

Melalui pernyataan di media sosial pada Sabtu (17/10/2026), Pemprov DKI menyebut koordinasi terus dilakukan untuk mengantisipasi dampak sebaran asap yang terdeteksi satelit.

“Pemprov DKI Jakarta terus berkolaborasi mengantisipasi potensi penurunan kualitas udara akibat sebaran asap yang terdeteksi satelit,” demikian pernyataan pemerintah daerah tersebut.

Warga disarankan mengenakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela saat udara luar tercemar, serta mengurangi kegiatan di luar rumah. Masyarakat juga diminta memperhatikan informasi kualitas udara terbaru sebelum menentukan aktivitas harian.

Perhatian tambahan perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan, karena paparan polusi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Marunda dan GBK Berada dalam Kategori Sedang

Tidak seluruh titik pemantauan di Jakarta menunjukkan kondisi yang sama. Data yang tersedia menyebutkan kualitas udara di Marunda, Jakarta Utara, serta kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta Pusat, berada dalam kategori sedang.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara dapat bervariasi antarlokasi. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak hanya mengandalkan kondisi udara di satu titik untuk menggambarkan keadaan seluruh wilayah ibu kota.

Sejumlah Daerah Karhutla Catat Udara Berbahaya

Di sejumlah daerah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara dilaporkan telah mencapai kategori berbahaya. Wilayah yang disebut meliputi Kota Palangka Raya, Barito Selatan, Gunung Mas, Murung Raya, dan Kotawaringin Timur.

Daerah lainnya mencakup Kampar, Pelalawan, Bengkalis, Bunga Raya, Penukal Abab Lematang Ilir, Kota Palembang, serta Tebo.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pemantauan kualitas udara secara berkala, terutama ketika karhutla masih berlangsung. Masyarakat di wilayah terdampak perlu mengikuti arahan pemerintah setempat dan mengurangi paparan asap, sementara perkembangan kualitas udara Jakarta juga perlu terus dipantau melalui data resmi.