Topik.id — Fenomena iklim El Nino di Samudra Pasifik diprediksi mencapai intensitas yang sangat kuat menjelang akhir tahun hingga memasuki periode mendatang. Badan Atmosfer dan Laut Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat peluang sebesar 98 persen terjadinya El Niño kategori sangat kuat serta 75 persen peluang menjadi yang terparah sejak tahun 1950. Fenomena ini turut dijuluki sebagai Super El Niño atau El Niño Godzilla oleh para ahli.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyatakan bahwa fenomena El Niño saat ini mengalami pembesaran di depan mata kita. Sementara itu, Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa sekitar 50 juta orang berpotensi terdorong ke dalam kelaparan akut akibat dampak cuaca ekstrem ini. Sebagai pembanding, fenomena El Niño pada 2015–2016 lalu telah berdampak pada sedikitnya 60 juta orang di seluruh dunia dan memicu kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai 3,9 triliun dolar AS.
Krisis Pangan dan Ancaman Beras Langka di Asia
Ancaman El Niño kali ini membayangi sektor vital di kawasan Asia, khususnya terkait ketersediaan pangan dan pasokan energi. Di Asia Tenggara, hasil panen beras regional diproyeksikan mengalami penurunan sebesar 8 hingga 10 persen.
Laporan OCBC Group Research menempatkan Indonesia, Filipina, Thailand, dan India sebagai negara dengan paparan risiko tertinggi terhadap lonjakan harga bahan pangan pokok seperti beras, gandum, jagung, dan minyak nabati. Pakar iklim dan ketahanan pangan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Elyssa Kaur Ludher, menyoroti kerentanan masyarakat di kawasan ini.
“Di Singapura, porsi pendapatan yang dihabiskan untuk makanan kurang dari 10 persen. Namun bagi warga Indonesia, hingga 50 persen atau lebih dari proporsi pendapatan dihabiskan untuk makanan. Jadi kenaikan harga apa pun akan berdampak secara tidak proporsional,” ujar Ludher dikutip dari The Guardian, Jumat (18/9/2026).
“Beras adalah garis hidup bagi wilayah ini,” imbuhnya.
Di Indonesia, data Kementerian Pertanian menunjukkan sekitar 30.400 hektar lahan padi telah terdampak kekeringan pada pertengahan Juli, sementara produksi minyak kelapa sawit diproyeksikan turun hampir 2 juta metrik ton akibat cuaca kering. Dalam laporan CNA, Kamis (17/9/2026), dampak panas ekstrem juga dirasakan oleh petani rumput laut di Bali seperti Wayan Suwarbawa, yang mengalami gagal panen total setelah suhu air laut yang memanas memutihkan tanaman rumput lautnya.
Selain sektor pertanian, krisis air dan energi mengancam sejumlah wilayah. Di Sri Lanka, krisis air minum melanda lebih dari 160.000 warga akibat kekeringan terparah dalam satu dekade terakhir.
“Jika sumber air mengering, tidak ada cara alternatif untuk mendapatkan air,” ungkap Pejabat Pusat Manajemen Bencana Sri Lanka. Kondisi ini membuat negara tersebut terpaksa mempertimbangkan opsi pengolahan air laut.
Sementara di Vietnam, penurunan debit sungai mengganggu kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang menyumbang 30 persen pasokan energi nasional. Direktur Centre for Governance and Sustainability NUS, Lawrence Loh, mengingatkan bahwa gangguan listrik di negara eksportir seperti Laos dapat berdampak pada rantai pasokan energi regional dan menaikkan biaya produksi barang.
Gelombang Panas Ekstrem dan Risiko Kesehatan
Dampak kenaikan suhu udara akibat El Niño memicu penyesuaian regulasi keselamatan kerja dan kesehatan masyarakat di Asia Timur dan Asia Tenggara. Korea Selatan mengrombak sistem peringatan gelombang panasnya untuk pertama kali dalam 18 tahun, dengan menetapkan ambang batas suhu terasa 38 derajat Celsius untuk menghentikan pekerjaan luar ruangan non-darurat.
Jepang secara resmi memperkenalkan istilah kokushobi untuk menggambarkan hari dengan suhu melampaui 40 derajat Celsius. Pemerintah Jepang juga mengidentifikasi lintasan bawah tanah berisiko tinggi yang akan ditutup secara prematur saat hujan lebat guna mencegah banjir jebakan. Sementara itu, di Hong Kong, otoritas merevisi kebijakan tempat kerja agar pengusaha menyediakan peralatan pendingin dan waktu istirahat bagi pekerja saat cuaca panas, dengan ancaman sanksi hukum bagi pengusaha yang melanggar.
Dampak panas ekstrem turut mengintai kesehatan reproduksi dan kelompok rentan. Adjunct Assistant Professor dari Yong Loo Lin School of Medicine NUS, Dr. Huang Zhongwei, menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi dan dehidrasi berdampak negatif pada kualitas sperma serta siklus menstruasi dan ovulasi wanita. Kondisi ini berpotensi memberikan tekanan tambahan pada angka kelahiran di Asia Tenggara yang sudah mengalami penurunan.
Langkah Persiapan Negara-Negara Asia Hadapi Super El Nino
Menghadapi potensi bencana yang saling berkaitan, pemerintah di berbagai negara Asia menggencarkan langkah mitigasi dan penyesuaian kebijakan. China meluncurkan kampanye 100 hari untuk melindungi hasil panen serta mendorong kota-kota menyusun peta risiko iklim guna memetakan kawasan rentan banjir dan panas ekstrem.
Di Taiwan, pemerintah menggelar simulasi darurat selama tiga hari berturut-turut untuk menghadapi kondisi suhu di atas 40 derajat Celsius, mencakup skenario pemadaman listrik dan krisis air. Di Asia Selatan, India mengambil langkah antisipatif yang digambarkan oleh Menteri Pertanian Shivraj Singh Chouhan sebagai perisai pelindung bagi petani.
Langkah ini dilakukan dengan membangun infrastruktur konservasi air di lebih dari 350 distrik rentan serta mendorong penanaman komoditas hemat air berumur pendek seperti milet dan kacang-kacangan. Sementara itu di Indonesia, pemerintah memperketat pencegahan kebakaran hutan dan lahan serta membagikan pompa air dan membenahi irigasi pertanian.
Profesor Klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menekankan pentingnya tindakan cepat.
“Kita juga harus bersiap untuk dua tahun ke depan. Kita perlu mencegah efek berantai karena prediksi saat ini menunjukkan El Niño akan bertahan,” tutur Yulihastin.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Indonesia, Ardhasena Sopaheluwakan, mengingatkan bahwa karakter El Niño kali ini memiliki perbedaan dibanding periode sebelumnya.
“El Niño tidak pernah terjadi dengan cara yang sama persis. Demikian pula dampaknya tidak pernah sama persis,” ungkap Sopaheluwakan, seraya menyoroti suhu permukaan laut global dan perairan Indonesia yang kini tercatat lebih hangat.
Di Thailand, Ketua Komite DPR Bidang Pertanahan dan Lingkungan Poonsak Chanchampee menegaskan perlunya perencanaan alokasi air yang matang agar fasilitas industri modern seperti pusat data tidak berebut sumber air dengan warga lokal dan petani.
“Kita perlu memetakan skenario-skenario ini sekarang,” tegas Poonsak.
