Topik.id — Sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi Bagian Selatan menghadapi tantangan berat setelah fenomena iklim ekstrem El Nino memicu penurunan drastis pada produktivitas pembangkit listrik tenaga air. PT PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mencatat kapasitas pasokan dari pembangkit hidro anjlok hingga 70,6 persen.
Edyansyah selaku General Manager PLN UID Sulselrabar menyampaikan bahwa kapasitas produksi listrik berbasis air yang normalnya mencapai kisaran 850 Megawatt kini merosot tajam menjadi sekitar 250 Megawatt saja.
“Penurunan daya mampu hingga kehilangan sekitar 600 MW ini menjadi salah satu tantangan berat yang kami hadapi dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sistem Sulbagsel,” ujar Edyansyah di Makassar, dikutip Jumat (18/9/2026).
Menyusutnya debit air secara signifikan akibat musim kemarau panjang turut memengaruhi kinerja sejumlah instalasi penting. Instalasi tersebut meliputi PLTA Poso, PLTA Bakaru, PLTA Malea, serta belasan unit Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro di kawasan tersebut.
Guna menekan potensi gangguan meluas di tengah masyarakat, perusahaan pelat merah ini langsung menerapkan sejumlah langkah penanganan paralel. Fokus utama diarahkan pada percepatan pemeliharaan teknis PLTU Jeneponto serta memaksimalkan seluruh mesin pembangkit termal operasional.
“Setiap tambahan megawatt sangat berarti untuk memperkuat sistem. Seluruh potensi pembangkit yang tersedia terus kami optimalkan,” tegas Edyansyah.
Di samping mengoptimalkan mesin pembangkit, pihak PLN menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah beserta para pemangku kepentingan untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca atau hujan buatan di kawasan tangkapan air bendungan.
Sembari melakukan pemantauan kondisi kelistrikan secara terus-menerus, pihak manajemen menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan kenyamanan yang terjadi serta berkomitmen untuk memulihkan keandalan jaringan secepatnya.
