Saham

BEI Catat 23 Calon Emiten dalam Pipeline IPO 2027, Perusahaan Makanan dan Minuman Mendominasi

BEI mencatat 23 perusahaan mengikuti coaching clinic untuk persiapan IPO 2027. Sektor makanan dan minuman mendominasi peserta pendampingan.

BEI Catat 23 Calon Emiten dalam Pipeline IPO 2027, Perusahaan Makanan dan Minuman Mendominasi
Foto: Balinesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan 23 perusahaan yang mengikuti program pendampingan calon emiten berpeluang memasuki pasar modal pada 2027. Hampir seluruh peserta coaching clinic tersebut dinilai berpotensi memenuhi kesiapan untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada tahun depan.

Program yang dijalankan bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) itu menjadi salah satu upaya BEI memperluas jumlah perusahaan yang dapat mengakses pendanaan melalui bursa. Meski demikian, realisasi IPO tetap bergantung pada keputusan masing-masing perusahaan.

Sebanyak 23 Perusahaan Masuk Pendampingan BEI

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin mengungkapkan, puluhan perusahaan tersebut telah mengikuti coaching clinic selama setahun terakhir. Melalui program ini, calon emiten memperoleh pendampingan untuk memahami berbagai tahapan dan persyaratan sebelum menawarkan saham kepada publik.

Saidu memperkirakan sebagian besar peserta sudah dapat mempersiapkan diri untuk melantai di bursa pada 2027. Namun, proyeksi tersebut belum berarti seluruh perusahaan pasti akan merealisasikan rencana pencatatan saham.

“Dalam setahun terakhir ini, BEI bekerja sama dengan Kementerian UMKM melalui program coaching clinic. Ada 23 perusahaan dan rasanya hampir seluruhnya pada tahun depan sudah siap IPO,” kata Saidu dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Keputusan untuk melanjutkan proses menuju IPO sepenuhnya berada di tangan perusahaan. Karena itu, jumlah calon emiten yang berpotensi siap pada 2027 masih dapat berbeda dengan realisasi pencatatan saham pada periode tersebut.

Perusahaan F&B Mengisi 30% Peserta Coaching Clinic

Berdasarkan bidang usahanya, perusahaan makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) menjadi kelompok terbesar dalam program pendampingan tersebut. Sektor ini mencakup sekitar 30% dari keseluruhan peserta.

Perusahaan fesyen menempati urutan berikutnya dengan kontribusi sekitar 20%. Adapun separuh peserta lainnya berasal dari beragam sektor usaha yang tidak disebutkan secara terperinci oleh BEI.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa program coaching clinic menjangkau perusahaan dengan latar belakang bisnis yang berbeda. Tidak hanya perusahaan F&B dan fesyen, pelaku usaha dari sektor lain juga berkesempatan mempersiapkan diri untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal.

Keterlibatan perusahaan dari berbagai bidang usaha menjadi bagian dari upaya memperluas basis calon emiten. Dengan demikian, pipeline IPO BEI tidak hanya bergantung pada satu kelompok industri.

BEI Tekankan Kesiapan Perusahaan Setelah IPO

Saidu menjelaskan, pendampingan calon emiten tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah perusahaan yang mencatatkan saham. BEI juga ingin menjaga kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal melalui pemenuhan persyaratan dan kesiapan menjalankan tata kelola sebagai perusahaan publik.

Setiap calon emiten tetap harus memenuhi ketentuan pencatatan saham yang berlaku sebelum proses IPO dapat dilaksanakan. Selain persiapan administratif dan persyaratan pencatatan, perusahaan perlu memahami konsekuensi setelah statusnya berubah menjadi perusahaan terbuka.

Kewajiban tersebut mencakup tanggung jawab sebagai perusahaan tercatat yang harus dijalankan secara berkelanjutan. Menurut Saidu, kesiapan perusahaan tidak cukup hanya diukur dari kemampuannya menyelesaikan proses penawaran saham perdana.

“Kami ingin kualitas perusahaan tercatat di Indonesia meningkat. Yang harus disiapkan bukan hanya perusahaan siap sebelum IPO, tetapi juga setelah menjadi perusahaan publik, mereka siap menanggung kewajiban-kewajibannya,” jelasnya.

Melalui pendampingan bersama Kementerian UMKM, BEI berharap semakin banyak pelaku usaha memahami mekanisme pasar modal dan menjadikannya alternatif pembiayaan untuk mengembangkan bisnis. Namun, calon emiten tetap perlu memastikan kesiapan internal sebelum mengambil keputusan untuk menawarkan saham kepada masyarakat.