— Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang sebelumnya hanya menjadi kekhawatiran industri kini mulai dipandang sebagai kondisi nyata di pasar energi global. Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz serta serangkaian serangan terhadap fasilitas energi Timur Tengah membuat pasokan minyak dan produk olahan semakin terbatas.

Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan harga energi dalam beberapa pekan terakhir. Harga minyak mentah Amerika Serikat telah melonjak sekitar 19% dalam tiga minggu hingga mendekati US$101 per barel, sementara harga solar di tingkat konsumen AS mencapai rekor US$6,23 per galon dan bensin naik menjadi US$4,32 per galon.

Penyangga Pasokan Minyak Mulai Menipis

Chief Executive Chevron Mike Wirth menilai berbagai instrumen yang selama ini digunakan industri untuk meredam gejolak pasokan sudah semakin terbatas. Menurutnya, cadangan dan kapasitas penyangga yang tersedia tidak lagi memberikan perlindungan sebesar ketika krisis baru dimulai.

Situasi diperburuk oleh kerusakan East-West Pipeline Arab Saudi setelah serangan milisi Houthi dari Yaman. Jalur tersebut menjadi rute penting yang menghubungkan ladang minyak Abqaiq dengan fasilitas pelabuhan Yanbu al-Bahr di Laut Merah.

Gangguan pada jalur alternatif tersebut diperkirakan menahan sedikitnya 2,5 juta barel minyak per hari dari pasar internasional. Jika kondisi ini berlangsung lama, tekanan terhadap harga minyak dan produk olahan berpotensi semakin besar.

Krisis Solar Jadi Risiko Terbesar

Permasalahan bukan hanya terjadi pada minyak mentah. Pasokan produk olahan, terutama solar, menjadi perhatian karena aktivitas kilang di Timur Tengah dan Rusia ikut terganggu.

Pendiri Pickering Energy Partners Dan Pickering mengatakan pasokan solar menghadapi tekanan serius, terlebih kebutuhan bahan bakar meningkat memasuki musim panen yang membutuhkan penggunaan alat berat pertanian.

Kondisi tersebut membuat pasar menghadapi persoalan yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat. Ketika kapasitas pengolahan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga produk olahan dapat bergerak lebih cepat dibandingkan harga minyak mentah.

China juga menjadi faktor penting. Sebagai konsumen minyak terbesar dunia, negara tersebut sebelumnya mengandalkan cadangan domestik untuk memenuhi porsi besar kebutuhan hariannya. Namun, China kini mulai kembali meningkatkan pembelian dari pasar internasional sehingga berpotensi menambah kompetisi memperebutkan pasokan.

Konflik Timur Tengah Belum Menunjukkan Titik Akhir

Ketidakpastian semakin tinggi karena belum terlihat penyelesaian konflik dengan Iran. Aktivitas di Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama karena jalur tersebut merupakan salah satu koridor perdagangan energi paling penting dunia.

Pendiri sekaligus CEO Quantum Capital Group Wil VanLoh menilai Iran memiliki kemampuan bertahan menghadapi konflik berkepanjangan. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan tekanan ekonomi terhadap Iran akan terus dilakukan dan memperkirakan konflik dapat berlangsung hingga pemilu sela November.

Bagi investor energi, durasi konflik menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar kemungkinan premi risiko bertahan di pasar.

AS Siapkan Tambahan Produksi Energi

Pemerintah AS berupaya meredam tekanan melalui peningkatan produksi minyak Venezuela dan kapasitas bahan bakar domestik. Negosiasi dengan Venezuela disebut terus berjalan, sementara pemerintah juga berdiskusi dengan perusahaan kilang AS untuk meningkatkan produksi.

Namun, langkah tersebut belum tentu langsung mengatasi kekurangan pasokan. Para eksekutif industri bahkan telah memperingatkan sejak Maret mengenai potensi kelangkaan produk olahan apabila Selat Hormuz terganggu dalam waktu panjang.

Peringatan tersebut kini menjadi semakin relevan. Dengan jalur distribusi yang terganggu dan cadangan global yang menipis, pasar energi menghadapi risiko krisis BBM yang dapat bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.