— Harga minyak mentah dunia kembali bergerak menguat pada perdagangan Selasa (15/9/2026), dengan Brent menembus US$106 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan pasokan energi global setelah infrastruktur minyak Arab Saudi terdampak serangan.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent naik US$1,24 atau 1,18% menjadi US$106,93 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat US$1,29 atau 1,24% ke US$102,65 per barel. Kenaikan tersebut melanjutkan penguatan sekitar 1,3% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Gangguan Pipa Arab Saudi Jadi Perhatian Pasar

Salah satu faktor utama yang mendorong harga minyak adalah penghentian operasional East-West Pipeline milik Arab Saudi. Jalur tersebut memiliki peran strategis karena menghubungkan ladang minyak di kawasan Teluk Persia dengan fasilitas ekspor di Laut Merah.

Penghentian operasi dilakukan setelah serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi di Yaman. Risiko terhadap infrastruktur energi tersebut membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak.

Kekhawatiran semakin besar setelah Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan udara militer Khamis Mushait di selatan Arab Saudi pada Senin (14/9). Serangan dilaporkan berdampak pada sejumlah fasilitas militer, termasuk hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi.

Pasokan Minyak Global Terancam Terganggu

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan pasar minyak kini sangat sensitif terhadap setiap serangan yang berpotensi merusak infrastruktur energi. Investor tidak hanya memperhatikan kerusakan aktual, tetapi juga kemungkinan gangguan yang lebih panjang.

Jika East-West Pipeline tidak segera kembali beroperasi, Arab Saudi berpotensi menghadapi keterbatasan cadangan minyak yang siap diekspor. Gangguan tersebut bahkan diperkirakan dapat mengurangi pasokan minyak global hingga sekitar 4%.

Kondisi ini menjadi perhatian karena pasar minyak global sudah menghadapi risiko pasokan dari sejumlah jalur strategis. Durasi penghentian operasi pipa menjadi salah satu indikator utama yang akan menentukan arah harga dalam beberapa hari mendatang.

Lalu Lintas Tanker di Selat Hormuz Menurun

Risiko pasokan juga datang dari Selat Hormuz. Aktivitas kapal tanker di jalur perdagangan minyak tersebut dilaporkan terus menurun. Pada akhir pekan, jumlah kapal yang melintas kurang dari 10 transit per hari, dibandingkan rata-rata 14 transit per hari dalam 10 hari sebelumnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sebelum konflik meningkat, jalur ini menjadi rute bagi sekitar 20% pasokan minyak global. Karena itu, penurunan aktivitas pelayaran dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap distribusi energi internasional.

Di sisi lain, negara-negara Teluk Arab menunda pembicaraan dengan Iran. Perkembangan tersebut membuat peluang penyelesaian ketegangan geopolitik dalam waktu dekat menjadi semakin tidak pasti.

Bagi pasar, risiko terbesar bukan hanya serangan baru, melainkan lamanya gangguan terhadap infrastruktur dan jalur distribusi. Jika East-West Pipeline serta Selat Hormuz terus menghadapi hambatan, harga minyak berpotensi mendapatkan dorongan lebih tinggi karena pasar harus mengantisipasi pasokan global yang semakin ketat.