— Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai tidak menunjukkan perubahan besar dalam arah kebijakan fiskal pemerintah. Ekonom Bank Danamon melihat penunjukan Suahasil justru menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin mempertahankan kesinambungan pengelolaan keuangan negara.

Chief Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai pengalaman panjang Suahasil di Kementerian Keuangan menjadi faktor yang dapat membantu proses transisi berjalan lebih mulus. Sebelumnya, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan terlibat dalam penyusunan APBN serta kebijakan fiskal.

Pergantian Menkeu Dinilai Minim Risiko Transisi

Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Penunjukan tersebut berlangsung ketika pemerintah masih menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dan keterbatasan ruang fiskal.

Irman melihat pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan lebih mencerminkan kesinambungan dibandingkan perubahan arah fiskal. Menurutnya, pemerintah juga telah menekankan bahwa proses pergantian akan berlangsung secara normal atau business as usual.

“Pergantian ini kami lihat sebagai sinyal kesinambungan kebijakan fiskal, bukan perubahan rezim fiskal Indonesia,” tulis Irman dalam risetnya, Senin (14/9/2026).

Pengalaman Suahasil selama berada di lingkungan Kementerian Keuangan dinilai dapat mengurangi risiko gangguan dalam masa transisi. Latar belakangnya sebagai teknokrat juga menjadi faktor pendukung kesinambungan kelembagaan dalam pengelolaan APBN.

Kredibilitas Fiskal Tetap Menjadi Perhatian

Menurut Irman, pemerintah masih perlu mempertahankan kredibilitas fiskal sebagai salah satu fondasi pengelolaan APBN. Efisiensi anggaran juga diperkirakan tetap menjadi prinsip penting, tetapi pelaksanaannya tidak cukup hanya dengan mengurangi belanja.

Pemerintah perlu memastikan setiap rupiah anggaran memberikan hasil yang lebih produktif. Pengeluaran dengan multiplier rendah dapat dialihkan menuju sektor yang mampu memberikan dampak ekonomi lebih besar dan sesuai dengan prioritas nasional.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting karena pemerintah memiliki target pertumbuhan ekonomi yang cukup agresif. Pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6% pada 2027 dengan defisit fiskal sebesar 2,40% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara itu, Bank Danamon memiliki proyeksi yang lebih konservatif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di level 5,1%, sedangkan defisit fiskal diproyeksikan sekitar 2,75% terhadap PDB.

Ruang Fiskal Harus Dikelola Lebih Hati-hati

Irman menilai defisit yang diproyeksikan Bank Danamon masih berada di bawah batas fiskal sebesar 3% terhadap PDB. Batas tersebut dinilai penting sebagai jangkar untuk mempertahankan kepercayaan terhadap kondisi keuangan negara.

Karena itu, pemerintah perlu berhati-hati dalam menentukan prioritas belanja. Fokus kebijakan tidak lagi sebatas memperbesar nominal pengeluaran, tetapi harus diarahkan pada kualitas dan efektivitas penggunaan anggaran.

Pengelolaan SAL Jadi Ujian Jangka Pendek

Selain belanja negara, pengelolaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) menjadi salah satu aspek yang akan diperhatikan dalam waktu dekat. Irman menilai SAL idealnya tetap menjalankan fungsi sebagai bantalan fiskal ketika pemerintah menghadapi kebutuhan anggaran tertentu.

SAL, menurutnya, tidak seharusnya berubah menjadi sumber likuiditas permanen bagi sektor perbankan. Apabila pemerintah melakukan normalisasi penempatan dana yang telah berjalan, proses tersebut perlu dilakukan secara bertahap dan terukur.

Koordinasi dengan Bank Indonesia juga dinilai penting agar perubahan penempatan dana tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap likuiditas maupun biaya dana perbankan.

Secara keseluruhan, Bank Danamon melihat arah fiskal pemerintah masih akan mendukung pertumbuhan ekonomi dengan batas defisit 3% terhadap PDB sebagai pijakan kredibilitas. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan belanja menghasilkan multiplier ekonomi yang lebih besar, produktif, dan berkelanjutan.